Contohnya, kemampuan bahasa yang lebih bagus, pemahaman teknologi yang lebih baik, modal untuk ikut pelatihan profesional (coaching), atau sekadar tahu apa saja yang biasanya diharapkan oleh perusahaan.
Hal ini jelas merugikan kandidat yang sebenarnya punya keterampilan yang dibutuhkan, tapi kurang paham cara memperbaiki CV-nya agar terlihat lebih meyakinkan.
Dengan beralih dari seleksi berbasis dokumen ke tes kemampuan nyata, proses rekrutmen jadi jauh lebih inklusif dan adil. Pada akhirnya, strategi rekrutmen yang sukses itu bukan soal seberapa cepat lamaran kerja bisa diproses, tapi seberapa dalam perusahaan bisa mengenali potensi asli kamu.
Artikel Terkait
Dalam Dunia Profesional, Sponsor Karier Itu Perlu Jika Ingin Kariermu Berkembang
Beda Upskilling dan Reskilling, Kamu Wajib Tahu saat Berniat Menambah Keterampilan Baru!
Keuntungan Melakukan Upskilling dan Reskilling, Nggak Cuma Bikin Kita Lebih Betah di Perusahaan!
Tidak Semua Penjilat di Kantor Itu Buruk: Cara Jadi Karyawan Kesayangan Bos Tanpa Kehilangan Integritas
First-Year Turnover, Karyawan Keluar Saat Belum Sampai Setahun Bekerja, Bukan Perkara Enteng. Ini Aalasannya!
8 Cara Mudah Menghadapi Rekan Kantor Bermuka Dua dan Tukang Cepu!
7 Tanda Anda Sedang “Quiet Fired” di Kantor, Bukan Burnout atau Bosan Bekerja