PejuangKantoran.com - Teknologi itu dibuat dengan tujuan bikin hidup jadi lebih mudah, ya kan? Tetapi, banyak juga yang malah bikin kerjaan tambah ruwet. Nah, hal inilah yang sekarang sedang dihadapi para rekruter.
Berkat bantuan AI, pelamar kerja sekarang ini bisa bikin CV yang rapi, menyusun cover letter yang meyakinkan, dan mengirim puluhan lamaran kerja cuma dalam hitungan menit. Tapi di sisi lain, kemudahan ini ternyata menyulitkan tim HR.
Sepintas, menerima ratusan lamaran terkesan positif. Logikanya, makin banyak pelamar, makin besar peluang dapat kandidat terbaik, hingga ribuan lamaran kerja tentu kan? Masalahnya, kenyataan di lapangan justru sebaliknya.
Baca Juga: 6 Langkah yang Harus Kamu Lakukan untuk Mendapatkan Sponsor Karier
Jumlah lamaran memang melonjak drastis, tapi kualitas atau kecocokan kandidatnya nggak ikutan naik. Banyak berkas yang terlihat profesional banget dan secara visual sempurna.
Tapi begitu digali lebih dalam, isinya belum tentu mencerminkan kemampuan, perilaku, atau etos kerja yang sebenarnya dibutuhkan untuk posisi tersebut. Ada gap yang besar antara apa yang tertulis di kertas dengan kenyataan di lapangan.
Bukannya bikin proses rekrutmen jadi lebih cepat, CV buatan AI ini malah bikin tim HR kerja ekstra keras. Mereka dipaksa menyaring ratusan, bahkan ribuan CV yang semuanya kelihatan sama-sama sempurna.
Bayangkan kalau kamu harus memilih satu di antara ratusan berkas yang gaya bahasanya mirip dan formatnya juga hampir sama. Susah banget, kan, buat melihat mana yang benar-benar kompeten?
Akibatnya, proses kurasi berkas jadi memakan waktu jauh lebih lama. Metode seleksi di mana rekruter cuma mengandalkan pembacaan CV malah bikin keputusan rekrutmen jadi lambat.
Parahnya lagi, gara-gara semua berkas terlihat seragam, kandidat yang punya potensi nyata tapi kurang jago moles CV jadi malah terlewat. Dan, ini sering terjadi.
Melihat situasi ini, banyak perusahaan yang mulai sadar kalau cara lama sudah nggak begitu mempan. Proses rekrutmen pun bergeser ke metode yang fokus pada simulasi kerja nyata.
Baca Juga: Buat Gen Z Work Life Balance Sudah Kuno, Kini Selamat Datang Era Work Life Integration
Untuk menyeleksi kandidat, rekruter menggunakan pertanyaan yang terstruktur, tes psikologi situasional, simulasi tugas harian, hingga asesmen berbasis nilai perusahaan.
Dengan cara ini, HR bisa melihat langsung bagaimana cara kandidat menyelesaikan masalah dan bersikap dalam situasi kerja yang riil. Jadi, nggak cuma menilai kemahiran mereka menyusun cover letter yang ciamik lewat AI.
Maraknya CV buatan AI juga memicu pertanyaan penting soal keadilan. CV yang terkesan sempurna banget sering kali bukan cuma mencerminkan pengalaman kerja seseorang, tapi juga menunjukkan kalau dia punya akses ke berbagai fasilitas pendukung.
Artikel Terkait
Dalam Dunia Profesional, Sponsor Karier Itu Perlu Jika Ingin Kariermu Berkembang
Beda Upskilling dan Reskilling, Kamu Wajib Tahu saat Berniat Menambah Keterampilan Baru!
Keuntungan Melakukan Upskilling dan Reskilling, Nggak Cuma Bikin Kita Lebih Betah di Perusahaan!
Tidak Semua Penjilat di Kantor Itu Buruk: Cara Jadi Karyawan Kesayangan Bos Tanpa Kehilangan Integritas
First-Year Turnover, Karyawan Keluar Saat Belum Sampai Setahun Bekerja, Bukan Perkara Enteng. Ini Aalasannya!
8 Cara Mudah Menghadapi Rekan Kantor Bermuka Dua dan Tukang Cepu!
7 Tanda Anda Sedang “Quiet Fired” di Kantor, Bukan Burnout atau Bosan Bekerja