Beda Upskilling dan Reskilling, Kamu Wajib Tahu saat Berniat Menambah Keterampilan Baru!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 9 Juni 2026 | 11:51 WIB
Ilustrasi: Saatnya untuk menambah keterampilan baru, tapi ketahui dulu beda upskilling dan reskilling. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Saatnya untuk menambah keterampilan baru, tapi ketahui dulu beda upskilling dan reskilling. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Harus kita akui, mencari pekerjaan sekarang ini nggak bisa cuma bermodal gelar sarjana dan pengalaman kerja. Untuk bersaing dengan ribuan pelamar lain, kita harus punya hal lain yang bisa dijual. Hal itu adalah: skill yang relevan dengan tren kerja sekarang ini.

Skill apa yang relevan? Kamu bisa melihat contohnya dalam lowongan kerja. Meskipun nama posisi atau jabatannya seolah cocok dengan pengalaman kamu, ternyata banyak persyaratan di dalamnya yang tidak kamu kuasai.

Padahal, menguasai keterampilan baru memungkinkan kamu untuk mencoba posisi atau peran yang berbeda, ganti perusahaan, atau bahkan beralih ke industri yang benar-benar baru.

Baca Juga: Ini 8 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Jelang FIFA Matchday Indonesia vs Mozambik Nanti Malam

Beda upskilling dan reskilling

Tapi jangan minder dulu. Masih banyak kesempatan buat upskilling dan reskilling, supaya kamu bisa selalu menjawab kalau ditanya "keterampilan apa yang kamu punya". Kemampuan beradaptasi (dengan skill tertentu) sekarang jadi syarat mutlak untuk tetap kompetitif.

Sebenarnya, apa sih beda upskilling dan reskilling

Upskilling: memperdalam keterampilan yang sudah ada

Upskilling adalah proses saat kamu mengambil pelatihan atau workshop untuk meningkatkan kemampuan di pekerjaan kamu sekarang ini. Tujuannya supaya kamu jadi lebih jago, lebih efisien, dan bisa menghadapi tantangan baru di posisi yang sama.

Baca Juga: Multi-Talented! Lulus S2 dari Harvard di Usia 20 Tahun, Allegra Isdar Kini Tur Dunia dengan Grup Acapella

Misalnya, Damar bekerja sebagai digital marketer di sebuah klinik kecantikan baru. Omsetnya ternyata hanya 30 pasien per bulan, dengan follower di Instagram yang baru di kisaran 500, engagement rate-nya pun hanya 1,2%. Website juga tidak muncul di Google.

Target Damar dalam enam bulan adalah punya omset 80 pasien per bulan, pengikut Instagram naik jadi 3.000, engagement rate jadi 4,5%. Damar juga ingin website kliniknya bisa masuk top 3 di pencarian Google.

 

Damar bisa mengikuti kursus AI untuk marketing untuk pembuatan konten, riset pasar, hingga membuat landing page. Damar juga perlu mengambil sertifikat data analytics (GA4, Looker Studio, atau CRM), hingga campaign automation (Hubspot, Klaviyo, atau Google Ads bidding).

Reskilling: mempelajari keterampilan baru

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes, Careerminds.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X