Melihat fenomena ini, banyak kaum senior yang memberikan banyak nasihat kepada kaum muda. Menurut mereka, hidup tentu harus diperjuangkan.
Prof. Rhenald mengutip pernyataan dari pemain basket legendaris Michael Jordan, “Obstacles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it, go through it, or workaround it.”
Dalam bahasa Indonesia, artinya “Hambatan tidak harus menghentikanmu. Jika kamu menabrak tembok, jangan berbalik dan menyerah. Cari tahu cara memanjatnya, melewatinya, atau mengatasinya.”
Guru besar bidang Ilmu Manajemen di Universitas Indonesia ini menyebutnya sebagai upaya maksimal jika ingin memiliki mental juara, meskipun mental ini tidak ada di sebagian orang.
Dengan semakin banyak orang yang melakukan quite quitting, work engagement para pekerja ternyata terkena imbasnya.
Survei oleh Gallup pada 15.000 karyawan di Amerika, baik itu karyawan full time ataupun part time, menunjukkan bahwa work engagement semakin menurun dari tahun ke tahun.
“Tahun 2020 misalnya, work engagement ada sekitar 36%. Tahun berikutnya, 2021, turun menjadi 34%. Tahun 2022 turun lagi menjadi 32%,” kata Prof. Rhenald.
Orang-orang yang tidak lagi melakukan work engagement disebut sebagai kaum yang actively disengaged. Jadi, mereka secara aktif tidak ingin terikat dengan pekerjaannya.
Akibat quite quitting pada negara
Akademisi 62 tahun ini mengatakan, jika semakin besar kaum yang melakukan quite quitting tadi, maka ada beberapa dampak negatif yang terjadi. Bahkan, dampak ini mempengaruhi kejayaan sebuah negara.
Baca Juga: Siapa Françoise Bettencourt Meyers, Perempuan Pebisnis Terkaya di Dunia?
“Kejadian-kejadian ini tentu saja akan mengakibatkan produktivitas negara turun, akhirnya ini menjadi penyebab terjadinya resesi, kesulitan besar, dan kejayaan suatu bangsa akan bubar.”
Ia berharap hal ini tidak terjadi di Indonesia dan kaum muda segera sadar. Jangan biarkan diri tersesat dengan kata-kata seperti work life balance.
Meski work life balance tetap diperlukan, tetapi sebenarnya semua kembali kepada diri masing-masing. Carilah cara untuk bisa menikmati pekerjaan.
“Lebih baik kita pusing karena banyak pekerjaan daripada pusing tidak punya pekerjaan. Tidak punya pekerjaan jauh lebih menyakitkan lagi,” ujarnya. (Elga Windasari)