Quite Quitting Cocok untuk Kaum Rebahan yang Tidak Berniat Menjadi Pemimpin di Perusahaan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 29 April 2023 | 16:59 WIB
Ilustrasi: Orang-orang melakukan quiet quitting karena merasa sudah bekerja maksimal, tetapi tidak mendapat hasil setimpal. (Freepik/Garets Visual)
Ilustrasi: Orang-orang melakukan quiet quitting karena merasa sudah bekerja maksimal, tetapi tidak mendapat hasil setimpal. (Freepik/Garets Visual)

PejuangKantoran.com - Mungkin kamu sudah sering mendengar istilah quite quitting. Tak heran, karena tahun ini istilah tersebut memang sedang sangat populer.

Quite quitting mungkin mulai dikenalkan oleh Zaid Khan, seorang pekerja di Amerika pada 2022. Ia mengatakan, nggak perlu resign jika kamu merasa lelah dengan pekerjaan. Cukup “stop going above and beyond”, itu saja.

Dia menyebut tidak mau memberikan lebih kepada perusahaan tempatnya bekerja daripada apa yang seharusnya. Jadi, menurutnya bekerja cukup santai-santai saja karena harga diri tidak ditentukan oleh pekerjaan.

Baca Juga: 8 Kesalahpahaman tentang Waktu yang Bikin Kamu Kurang Produktif

Quite quitting sama saja berarti kerja cukup

Menurut Prof. Rhenald Kasali, PhD, quite quitting berarti diam-diam berhenti, berhenti diam-diam, atau tidak berhenti, tetapi hanya diam-diam di kantor.

Orang-orang ini merasa sudah bekerja maksimal, tetapi tidak mendapat hasil setimpal. Jadi, karena upaya mereka dirasakan percuma, akhirnya cara yang dipilih adalah kerja cukup, tidak perlu memberikan usaha ekstra, dan bare minimum.

Prof. Rhenald bilang, inilah cara kerja yang cocok untuk kaum rebahan.

Di Tiongkok, cara kerja ini disebut Tang Ping atau Lying Flat. Para pekerja merasa gajinya segitu-segitu saja dan terus mengeluh. Selain tidak ingin menjadi stres, mereka juga bilang perlu work life balance, hal yang diributkan oleh kaum muda.

“Ibaratnya kalau generasi saya bilangnya ini adalah pegawai dengan prinsip Teng-Go. Begitu bunyi bel ‘teng’ langsung ‘go’,” jelasnya.

Meski melakukan tindakan pasif, bersifat diam-diam, tetapi sebenarnya ini adalah sebuah perlawanan.

Itulah mengapa quiet quitting juga sering disebut Passive Aggressively Withdrawing atau tindakan menarik diri secara perlahan-lahan.

“Jadi, (dia) tidak menjadi the star. Tidak akan masuk ke dalam kelompok yang menjadi calon pemimpin di perusahaan,” ujar Prof. Rhenald.

Baca Juga: 6 Cara Biar Cuti Bersama Kamu Enggak Terganggu Urusan Kerjaan: Bye-bye (Sementara) Kantor

Work engagement semakin menurun

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: youtube @rhenald_kasali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X