"Jadi, ada barang-barang yang we like to see, but not willing to buy. Apalagi di zaman pandemi, mayoritas orang cenderung untuk selective buying.
“Itu sebabnya saya membuat barang untuk dibeli, bukan hanya sekadar image yang indah atau menarik dilihat. Apa yang laku, item-item itulah yang saya buat," serunya.
Baca Juga: Kiat Sukses Bisnis Clinton Augusto dan Sally Varsy yang Masuk Forbes 30 Under 30 Asia 2023
Insight terakhir yang ia dapat setelah ketagihan TikTok adalah perilaku generasi yang lebih muda (Gen Z) yang lebih suka menemukan produk atau tempat baru sendiri, bukan melalui kampanye atau promosi besar-besaran.
"Younger generation prefer to discover, bukan yang disodor-sodorkan. Itu sebabnya banyak video yang menampilkan hidden gem, padahal tempat itu atau makanan itu buat saya sudah lama ada.
“Banyak konsumen saya juga menemukan brand saya karena mereka menemukan sendiri. Saat liburan di Bali, mereka menemukan toko saya dan kemudian membagikan pengalaman menemukan itu di media sosialnya," ujarnya menutup pembicaraan. (Syanne Susita)