Tentu saja ada yang membuat beberapa psikopat bisa meraih kesuksesan, sedangkan yang lain justru berakhir dengan memiliki catatan kriminal, yang bahkan sangat menyeramkan.
Ternyata, IQ dan pendidikan adalah salah satu penyebabnya.
Penting untuk dicatat bahwa rata-rata IQ pembunuh berantai adalah 94,7—skor yang normal. Namun, orang yang menempuh jalan kriminal cenderung tidak menerima pendidikan yang baik dan mungkin memiliki pengalaman keluarga yang traumatis.
Otak seorang psikopat juga sangat tidak dewasa. Hal itu dibuktikan dari foto neuropathways dari otak psikopat yang ditunjukkan oleh Dr Tara.
Dari situ terlihat bahwa otak psikopat mirip dengan remaja yang sangat tidak dewasa. Sistem limbik—bagian otak yang terkait dengan ikatan, emosi, dan ingatan—rusak dan tidak pada tahap yang seharusnya.
Lalu, karena bagian otak yang menahan "tombol jeda" tidak berkembang dengan baik, hal ini membuat psikopat tidak bisa berhenti sejenak dalam situasi untuk memikirkan orang lain dan cenderung membuat keputusan yang terburu-buru dan impulsif.
Ada teori yang menyebut bahwa ini bisa terjadi akibat cedera otak traumatis. Faktanya, banyak pembunuh berantai mengalami cedera kepala saat masih kecil, dan sekitar 72% bermasalah dengan penyalahgunaan zat terlarang.
Perbedaan sosiologis juga dapat memicu psikopat dengan cara yang berbeda.
Menurut Dr Tara, banyak CEO psikopat yang pernah menjadi kliennya, dikirim ke sekolah asrama pada usia muda dan mengalami penghinaan dan kekerasan selama di sana.
Apakah kondisi ini ada obatnya?
Ahli saraf dan psikiater ini menggambarkan spektrum psikopat adalah seperti kenop yang bisa diputar ke atas dan ke bawah.
“Yang cenderung terjadi pada pengacara dan ahli bedah (yang memiliki sifat psikopat) adalah mereka memilih hal yang benar-benar penting untuk membuat mereka menjadi pengacara atau ahli bedah yang baik, dan menolak hal-hal yang tidak membantu," jelasnya.
Baca Juga: Efek Buruk Jika Benci dengan Pekerjaan yang Kamu Lakukan Selama Ini
Dr Tara yang bekerja dengan para tahanan juga melihat secara langsung bagaimana pemerkosa belajar untuk menyesali apa yang telah mereka lakukan. Menurutnya, jika penjahat saja bisa melakukan ini, begitu pula dengan CEO.
“Sulit untuk melupakan kebiasaan yang sudah ada di otak, lebih baik menimpanya dengan perilaku baru yang diinginkan," katanya.