Ketika kamu mengumumkan akan merombak sistem dan membuang cara lama dalam melakukan sesuatu, kamu akan memberi kesan bahwa rutinitas yang sudah mendarahdaging dalam diri anak buah telah berakhir. Dan itu meresahkan.
Solusi: Luangkan waktu untuk mendengarkan dan mengajukan pertanyaan sebelum membuat perubahan besar. “Manajer baru harus menghabiskan banyak waktu mengamati, memelajari bagaimana tim bekerja, mengajukan pertanyaan mendalam, mengumpulkan data, membangun kepercayaan, membuat orang melakukan hal yang benar, dan kemudian membuat rencana untuk melakukan perubahan jika diperlukan,” kata Conley.
Baca Juga: Betulkah Bekerja dari Rumah Membuat Atasan Cenderung Menjadi “Helicopter Boss”?
4. Terlalu ramah dengan tim yang kamu pimpin
Dalam sebuah survei terhadap hampir 300 manajer pemula, 59% dari mereka mengalami kesulitan dalam menunjukkan otoritas. Akibat gaya kepemimpinan yang tidak menetapkan batasan dan berusaha menjadi teman bagi semua orang, anak buah biasanya jadi sulit menerima masukan atau teguran dengan serius.
Penelitian juga menemukan bahwa terlalu dekat dengan orang yang kita kelola bisa membuat pekerjaan menjadi kurang efisien.
Solusi: Menjadi bos sekaligus teman tentu baik. Namun saat melakukan transisi dari rekan kerja menjadi bos, kamu harus mengutamakan aspek profesional dari hubungan ini. Contohnya dengan mendiskusikan bagaimana hubungan kalian akan berubah, misalnya tidak lagi bisa sering ngobrol berdua saja di tempat kerja.