Curhat Yoga: Kelimpahan Kerja Si Bos yang Cuti Dadakan, Gaji Dipotong, dan Tak Dihargai

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 25 November 2022 | 17:42 WIB
Jangan Diabaikan! Kenali 5 Tanda Burnout Berikut yang Jarang Disadari Namun Sering Terjadi (Pexels/ANTONI SHKRABA )
Jangan Diabaikan! Kenali 5 Tanda Burnout Berikut yang Jarang Disadari Namun Sering Terjadi (Pexels/ANTONI SHKRABA )

PejuangKantoran.com - Seorang karyawan swasta di Jakarta, Vincent Yoga sudah memendam lama kegelisahannya pada kantor selama 8 tahun lebih. Bukan tanpa alasan dia kesal dengan kantornya. 

“Aku kerja mulai 2015, sampe akhirnya menyerah tahun 2021 lalu, di tengah pandemi gitu. Aku udah enggak kuat," katanya kepada Pejuang Kantoran. 

"Saat itu belum ada kerjaan baru, tapi ya udah karena udah enggak tahan lagi aku resign. Nekat."

Apa sih yang membuatnya nekat resign di saat banyak orang ketar-ketir PHK saat itu? 

Dikatakannya, masalah pertama yang dialaminya adalah bosnya yang mendadak cuti sesukanya. Cuti sebenarnya bukan masalah, tapi mendadak cuti dan setiap dua minggu sekali selama lebih dari sebulan, agaknya itu sudah kebangetan. Bos yang cuti mendadak demi liburan berulang-ulang di tengah proyek besar membuat Yoga akhirnya 'ketumpuan' untuk jadi ban serep sang bos tanpa ada arahan jelas. Keki? sudah pasti.

Baca Juga: 3 Kesan yang Langsung Disimpulkan Orang Lain Saat Ketemu Kita Kali Pertama

"Sudah kerjaan makin banyak dari bos yang seenaknya sendiri, jam kerja makin gak teratur, tapi gaji dipotong, jadi rasanya gak diapresiasi bahkan sampai burnout,”  katanya. 

“Puncaknya terjadi tahun lalu, setelah berbagai meeting, aku ditantang untuk bisa menggaet artis Korea Selatan untuk kerjasama. Aku mulai buka jaringan untuk penjajakan, bikin email ke sana-sini karena itu adalah pertama kalinya kami mau kerjasama dengan artis Korsel.”


Yoga melanjutkan ceritanya, kala itu, beberapa management artis Korea sudah menanggapi dan menunggu kesepakatan selanjutnya. Dengan semangat dia pun langsung berkorespondensi dengan tim management artis dan juga atasan di kantornya. Setelah mendapat lampu hijau dari bosnya, dia langkah selanjutnya pun dilakukan dengan negosiasi harga sesuai dengan budget kantor, pihak sang artis Korea Selatan pun juga mengunci jadwal bersama.

“Capek-capek aku kejar artisnya, dua bulan follow up, sudah tinggal bayar, eh dibilang cancel. Waktu cancel pun dia juga enggak mau bantu untuk kirim email permintaan maaf atau pembatalan ke management artisnya. Udah enggak mau, dia juga sama sekali enggak tanya gimana kelanjutan atau respons dari pihak sana. Udah kaya dilupain aja gitu.”

“Itu sebenernya kerjaan beberapa orang jadi satu, tapi aku saat itu gak ngeluh. Sudah gerah banget, tapi saat itu lagi pandemi, susah cari kerjaan baru.”

Baca Juga: 4 Tipe Kepribadian HRD yang Paling Menonjol. Nggak Ada Tipe 'Musuh Bersama', Lho!

Namun bukan cuma itu,sejak pandemi, gajinya pun dipotong 50 persen tanpa persetujuannya, sampai waktu yang tak ditentukan. Sesungguhnya dia paham akan kondisi keuangan perusahaan, namun dia yang bekerja untuk sebuah brand besar, merasa tak adil dengan beban kerja yang diterimanya. Pasalnya saat itu dia mendapat promosi jabatan namun gajinya juga langsung dipotong. Artinya, dia mendapat pekerjaan tambahan baru tapi gaji pun jauh dari layak. Bahkan hanya untuk ongkos PP rumah-kantor pun tak cukup.  

Sejak saat itu dia pun langsung ogah kerja serius. Dia memilih bekerja sesuai dengan keperluannya saja.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X