PejuangKantoran.com - Ada kemungkinan kamu menderita imposter syndrome kalau kamu secara konsisten meragukan diri sendiri, termasuk di bidang yang kamu kuasai.
Sindrom ini membuat kamu merasa gelisah, gugup, dan bisa bermanifestasi menjadi cara berbicara pada diri sendiri secara negatif. Gejala kecemasan dan depresi sering menyertai tipe imposter syndrome ini.
Kondisi ini sebenarnya bukan suatu gangguan kesehatan mental. Namun, kita bisa membagi gangguan ini menjadi 5 tipe imposter syndrome:
Baca Juga: Mengenal Imposter Syndrome, Penyebab dan Tanda-tanda yang Perlu Kamu Waspadai
Perfeksionis. Tipe imposter syndrome ini menimbulkan keyakinan bahwa, kecuali kamu benar-benar sempurna, seharusnya kamu bisa melakukan sesuatu lebih baik.
Kamu merasa seperti penipu karena sifat perfeksionis yang membuat kamu percaya bahwa kamu tidak sebaik yang orang lain kira.
Expert. Tipe expert atau pakar merasa seperti penipu karena mereka merasa sebenarnya tidak mengetahui segala hal tentang subjek atau topik tertentu. Karena masih banyak yang harus mereka pelajari, mereka tidak merasa telah mencapai peringkat "pakar".
Jenius dari sononya. Pada tipe imposter syndrome yang ini, kamu merasa seperti penipu hanya karena kamu tidak percaya bahwa kamu cerdas atau kompeten dari sononya.
Ketika tidak melakukan sesuatu dengan benar pada kali pertama, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai suatu keterampilan, saat itulah kamu merasa seperti penipu.
Solois. Kamu juga merasa seperti penipu kalau kamu harus meminta bantuan untuk mencapai level atau status tertentu. Karena tidak mampu melakukannya sendiri, kamu mempertanyakan kompetensi atau kemampuanmu.
Si Super. Tipe imposter syndrome ini mendatangkan keyakinan bahwa kamu harus menjadi pekerja paling keras atau mencapai tingkat pencapaian setinggi mungkin. Kalau tidak, kamu penipu.
Baca Juga: Lebih dari 55% Orang Mengaku Pernah Berbohong dalam CV. Apa 8 Kebohongan Terbesar di Resume?
Bagi sebagian orang, sindrom imposter bisa memicu motivasi untuk berprestasi, tetapi hal ini biasanya harus dibayar dengan rasa cemas yang terus-menerus.
Kamu mungkin mempersiapkan secara berlebihan atau bekerja lebih keras dari yang diperlukan, misalnya, untuk memastikan tidak ada yang mengetahui bahwa kamu penipu. Akhirnya, kecemasan memburuk dan dapat menyebabkan depresi.
Artikel Terkait
Cara Validasi NIK menjadi NPWP Secara Mandiri, Agar Nomor KTP Bisa Jadi Nomor NPWP
Tidak Ada Lagi Gisel, dan 5 Fakta Baru Lainnya di Cek Toko Sebelah 2
5 Resolusi Keuangan Tahun Baru 2023 yang Terukur dan Mudah Dicapai
Masih Kagok Urus Baby, Ini Cara Adipati Dolken Mendukung Sang Istri
H&M Tarik Semua Koleksi Merchandise Justin Bieber dari Toko dan Website-nya