Hal ini lalu membentuk lingkaran setan. Kamu berpikir bahwa satu-satunya alasan kamu selamat dari suatu tugas presentasi itu karena kamu sudah begadang semalaman untuk berlatih.
Atau, satu-satunya alasan kamu berhasil melalui pertemuan keluarga dengan lancar itu karena kamu ingat ciri-ciri semua tamu sehingga kamu selalu punya ide untuk bahan obrolan.
Baca Juga: 5 Ciri Tempat Kerja yang Toxic, dan Perlu Menjadi Red Flag yang Harus Diwaspadai Karyawan
Masalah dengan imposter syndrome adalah, pengalaman melakukan sesuatu dengan baik ternyata tidak mengubah keyakinan kamu. Masih ada pikiran yang mengganggu seperti, "Apa hak saya untuk berada di sini?"
Semakin banyak yang kamu capai, semakin kamu merasa seperti penipu. Seolah-olah kamu tidak bisa menginternalisasi pengalaman sukses kamu sendiri.
Masuk akal sih, kalau kamu memang menerima masukan bahwa kamu kurang perform dalam kinerjamu. Keyakinan bahwa kamu "B" saja begitu kuat sampai ada bukti sebaliknya. Prinsip kamu, kalau kamu berhasil melakukan sesuatu, itu pasti karena keberuntungan.
Orang yang mengalami imposter syndrome cenderung tidak membicarakan perasaannya dengan siapa pun. Ia memilih berjuang dalam diam, sama seperti penderita gangguan kecemasan sosial lainnya.
Artikel Terkait
Cara Validasi NIK menjadi NPWP Secara Mandiri, Agar Nomor KTP Bisa Jadi Nomor NPWP
Tidak Ada Lagi Gisel, dan 5 Fakta Baru Lainnya di Cek Toko Sebelah 2
5 Resolusi Keuangan Tahun Baru 2023 yang Terukur dan Mudah Dicapai
Masih Kagok Urus Baby, Ini Cara Adipati Dolken Mendukung Sang Istri
H&M Tarik Semua Koleksi Merchandise Justin Bieber dari Toko dan Website-nya