5 Tipe Imposter Syndrome dan Dampak Sindrom Ini pada Penderitanya

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 24 Desember 2022 | 11:18 WIB
Ilustrasi: Ada lima tipe imposter syndrome yang sering terjadi. (Freepik)
Ilustrasi: Ada lima tipe imposter syndrome yang sering terjadi. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Ada kemungkinan kamu menderita imposter syndrome kalau kamu secara konsisten meragukan diri sendiri, termasuk di bidang yang kamu kuasai.

Sindrom ini membuat kamu merasa gelisah, gugup, dan bisa bermanifestasi menjadi cara berbicara pada diri sendiri secara negatif. Gejala kecemasan dan depresi sering menyertai tipe imposter syndrome ini.

Kondisi ini sebenarnya bukan suatu gangguan kesehatan mental. Namun, kita bisa membagi gangguan ini menjadi 5 tipe imposter syndrome:

Baca Juga: Mengenal Imposter Syndrome, Penyebab dan Tanda-tanda yang Perlu Kamu Waspadai

Perfeksionis. Tipe imposter syndrome ini menimbulkan keyakinan bahwa, kecuali kamu benar-benar sempurna, seharusnya kamu bisa melakukan sesuatu lebih baik.

Kamu merasa seperti penipu karena sifat perfeksionis yang membuat kamu percaya bahwa kamu tidak sebaik yang orang lain kira.

Expert. Tipe expert atau pakar merasa seperti penipu karena mereka merasa sebenarnya tidak mengetahui segala hal tentang subjek atau topik tertentu. Karena masih banyak yang harus mereka pelajari, mereka tidak merasa telah mencapai peringkat "pakar".

Jenius dari sononya. Pada tipe imposter syndrome yang ini, kamu merasa seperti penipu hanya karena kamu tidak percaya bahwa kamu cerdas atau kompeten dari sononya.

Ketika tidak melakukan sesuatu dengan benar pada kali pertama, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menguasai suatu keterampilan, saat itulah kamu merasa seperti penipu.

Solois. Kamu juga merasa seperti penipu kalau kamu harus meminta bantuan untuk mencapai level atau status tertentu. Karena tidak mampu melakukannya sendiri, kamu mempertanyakan kompetensi atau kemampuanmu.

Si Super. Tipe imposter syndrome ini mendatangkan keyakinan bahwa kamu harus menjadi pekerja paling keras atau mencapai tingkat pencapaian setinggi mungkin. Kalau tidak, kamu penipu.

Baca Juga: Lebih dari 55% Orang Mengaku Pernah Berbohong dalam CV. Apa 8 Kebohongan Terbesar di Resume?

Dampak imposter syndrome

Bagi sebagian orang, sindrom imposter bisa memicu motivasi untuk berprestasi, tetapi hal ini biasanya harus dibayar dengan rasa cemas yang terus-menerus.

Kamu mungkin mempersiapkan secara berlebihan atau bekerja lebih keras dari yang diperlukan, misalnya, untuk memastikan tidak ada yang mengetahui bahwa kamu penipu. Akhirnya, kecemasan memburuk dan dapat menyebabkan depresi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: WebMD, Very Well Mind

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X