Pemerintah Jepang Semakin Rajin Rekrut Pekerja Asing, tapi Terapkan Aturan Kerja yang Sulit

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 19 September 2023 | 16:02 WIB
Ilustrasi: Jepang semakin membuka diri terhadap tenaga kerja asing. (Freepik)
Ilustrasi: Jepang semakin membuka diri terhadap tenaga kerja asing. (Freepik)

Menurutnya, masyarakat harus bisa menerima pekerja asing di Jepang secara layak sebagai anggota industri, ekonomi, dan komunitas lokal Jepang.

Langkah antisipasi yang dilakukan Jepang

Selain imbauan tersebut, Jepang juga meluncurkan langkah-langkah untuk menarik talenta-talenta global terbaik untuk meningkatkan perekonomiannya.

Perdana Menteri Fumio Kishida mengatakan akan "menciptakan sistem kelas dunia untuk menerima pekerja berketerampilan tinggi."

Namun, berbagai faktor disebut bisa menjadi tantangan bagi Jepang di era persaingan global ini.

Sebut saja pertumbuhan upah yang lamban dan budaya perusahaan yang lama, hingga program visa baru di negara-negara Asia, serta naiknya tingkat gaji di negara-negara berkembang.

Itulah mengapa pemerintah memutuskan melakukan revisi besar terhadap program tenaga kerja asing, termasuk mengganti program magang teknis dengan kerangka kerja baru yang dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja secara lebih langsung.

Baca Juga: Benarkah September Waktu Terbaik untuk Mendapatkan Pekerjaan?

Salah satunya dengan melakukan program baru untuk menerima pekerja bergaji tinggi dari luar negeri.

Jadi, jika ada pekerja yang dibayar lebih dari 20 juta yen atau sekitar Rp 2 triliun per tahun dan memenuhi beberapa kriteria lainnya, maka dia dapat mengajukan permohonan izin tinggal permanen setelah tinggal selama satu tahun.

Langkah lainnya adalah mengizinkan lulusan dari 100 universitas terbaik dunia untuk tinggal selama dua tahun. Pemberian visa kepada lulusan yang menjadi pengangguran ini menunjukkan keinginan pemerintah untuk menarik talenta muda.

Masalah pekerja asing di Jepang

Apakah upaya Jepang ini akan semakin minat pekerja asing untuk bekerja di sana? Belum tentu.

Para ahli menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Jepang yang enggan mengubah budaya tenaga kerja di tempat kerjanya justru menjadi masalah.

“Ketika saya berbicara dengan mahasiswa asing, mereka mengatakan bahwa mereka merinding ketika melihat N1 sebagai persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan,” kata Yoshida dari Transcend-Learning.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Nikkei Asia

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X