PejuangKantoran.com - Sejak kasus pneumonia di China menyerang anak-anak pada Oktober 2023, dunia mulai khawatir dan bertanya-tanya apakah ini akan menjadi cikal bakal COVID-19 seperti dulu. Dikhawatirkan pula, pneumonia masuk ke Jakarta.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia bahkan sampai memberikan surat edaran untuk mencegah pneumonia masuk ke Jakarta, dan meluas ke seluruh Indonesia. Namun, akhirnya penyakit "misterius" itu sudah masuk ke Jakarta.
Menurut Kepala Seksi Surveilans, Epidemiologi, dan Imunisasi Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ngabila Salama, ada bukti bahwa pneumonia masuk ke Jakarta, karena terdeteksi melalui tes PCR.
Baca Juga: 6 Cara Melakukan Career Switch dari Bidang Teknik ke Keuangan atau Sektor Perbankan
Dr. Ngabila menjelaskan bahwa seluruh pasien adalah anak berusia 3 - 10 tahun, dan positif terjangkit pada pertengahan November 2023 lalu. Namun, saat ini semuanya telah dinyatakan sembuh.
"Tiga kasus mycoplasma pneumonia anak di DKI Jakarta sudah sembuh setelah isolasi selama 10 hingga 14 hari," jelasnya.
Apa saja gejala Mycoplasma pneumonia?
Dari ketiga pasien anak yang terdeteksi, gejala yang mereka alami adalah demam, batuk, mual, dan rokhi atau suara napas tambahan yang bernada rendah akibat penyumbatan jalan napas dari lendir.
Dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Erlina Burhan menyebut bahwa penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang ditularkan melalui cairan droplet di udara, dan dapat menimbulkan gejala khas berupa batuk.
Namun, batuknya juga bukan batuk biasa karena bisa berlangsung hingga beberapa minggu atau bulan. Selain itu, penyakit ini juga ditandai dengan gejala umum lain yang muncul 1 – 4 minggu setelah terinfeksi, yaitu:
• Sakit tenggorokan
• Demam
• Lemas
• Nyeri kepala
• Adanya efusi pleura (penumpukan cairan di rongga pleura) atau eksaserbasi Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
Baca Juga: Coba Santap Makanan Ini Kalau Kamu Lagi Depresi dan Gampang Cemas
"Sementara itu gejala yang timbul pada anak-anak di China itu, bahkan kalau batuknya terlalu sering bisa muntah dan diare," ujar dr. Erlina.
Lakukan ini sebagai langkah pencegahan
Masih menurut dr. Erlina, Mycoplasma pneumoniae sebenarnya bukan penyakit baru. Ini adalah kuman yang sudah ada sejak lama, bahkan sebelum COVID-19 muncul.
Artikel Terkait
Didampingi Pasha Ungu, Gibran Rakabuming Raka Muncul di Car Free Day dan Menikmati Musik di Tangga Sarinah
Nyesek, Miliarder Hong Kong Ini Pilih Orang Lain untuk Meneruskan Bisnis Keluarga daripada Anaknya Sendiri
Apa Itu Asam Sulfat yang Disebut Gibran Harus Dipenuhi Ibu Hamil? Padahal Ini Asam Berbahaya!
Menyuruh Koki Magang Minum Minyak Mendidih, Head Chef Restoran Terkenal Ditangkap dan Diadili
Kawasan Gunung Bromo Disebut sebagai Taman Nasional Terindah Peringkat Ketiga di Dunia
Tanggapi Peningkatan Kasus Pneumonia di China, Kemenkes Mulai Keluarkan Surat Edaran
7 Hal yang Diutamakan Gen Z saat Mencari Kerja, Work Life Balance Bukan Satu-satunya!