Rumah Kosong di Jepang Dijual Seharga Rp150 Jutaan Saja, tapi Mengapa Bukan Investasi Bagus?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 8 November 2024 | 21:47 WIB
Ilustrasi: Populasi di Jepang yang menyusut menyebabkan munculnya banyak akiya atau rumah kosong yang dijual dengan harga murah. (Freepik/Tawatchai07)
Ilustrasi: Populasi di Jepang yang menyusut menyebabkan munculnya banyak akiya atau rumah kosong yang dijual dengan harga murah. (Freepik/Tawatchai07)

Pejuangkantoran.com - Di tengah harga properti yang rasanya makin tak terjangkau, tawaran rumah murah seharga Rp150 juta ini tentu sungguh menggiurkan. Syaratnya, kamu harus ke Jepang.

Mengapa? Karena saat ini Jepang tengah menghadapi kelebihan pasokan properti. Pada 2023, data pemerintah menyebutkan bahwa negara ini memiliki lebih dari 9 juta akiya atau rumah kosong.

Beberapa rumah kosong di Jepang tersebut bahkan dijual dengan harga kurang dari $10.000 atau hanya sekitar Rp158 juta.

Baca Juga: Jangan Buka Tagihan Pajak dengan File APK, BRI Imbau Masyarakat Tidak Mudah Terkecoh

Alasan rumah-rumah tersebut dijual sangat murah karena sudah ditinggalkan pemiliknya dan dibiarkan kosong selama beberapa dekade. Lokasinya tersebar di daerah pedesaan, tetapi ada juga yang berada di kota-kota besar.

Apa itu akiya?

Penyebab utama munculnya akiya adalah krisis populasi karena tingkat kesuburan di Jepang merosot ke rekor terendah, yaitu 1,2 kelahiran per wanita pada 2023.

Sementara angka kematian telah melampaui angka kelahiran di Jepang sehingga populasi lansia terus meningkat.

“Masalah akiya telah berkembang selama beberapa dekade, berakar pada ledakan ekonomi pasca perang Jepang, yang menyebabkan lonjakan pembangunan perumahan,” kata Tetsuya Kaneko, kepala penelitian dan konsultasi di Savills Jepang.

Migrasi perkotaan menjadi faktor lain yang berkontribusi besar terhadap rumah-rumah kosong di Jepang.

Baca Juga: Yuk, Cari Kesempatan Kerja di Jepang di Tokyo Job Fair 2024! Jangan Terlewat Jadwalnya, Ikuti Petunjuknya!

Jadi, ketika generasi muda pindah ke kota untuk bekerja, daerah pedesaan ditinggalkan dengan populasi yang semakin menua. Sementara ahli warisnya enggan untuk menggunakan atau menjual rumah keluarganya.

Itulah sebabnya akiya sering mendapat stigma sebagai beban, yang membuat jumlahnya semakin banyak. Apalagi rumah tua yang berusia lebih dari 30 tahun.

Selain karena mengkhawatirkan masalah keamanan, biaya renovasi yang tinggi, dan kerusakan, beberapa orang percaya bahwa rumah-rumah tersebut mungkin berhantu atau membawa nasib buruk.

Menurut Michael, pendiri blog real estate Jepang Cheap Houses Japan, ini yang membuat banyak orang Jepang melihat akiya sebagai barang yang terdepresiasi yang lebih merepotkan daripada barang yang nilainya tinggi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Make It

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X