Perusahaan Startup Ini Umumkan PHK Massal, Namun Dikecam karena Ternyata Cuma Trik Marketing

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 19 Desember 2024 | 07:23 WIB
YesMadam, yang memposisikan diri sebagai smart tech salon, menerima kecaman karena membuat trik pemasaran yang berlebihan. (Yesmadam.com)
YesMadam, yang memposisikan diri sebagai smart tech salon, menerima kecaman karena membuat trik pemasaran yang berlebihan. (Yesmadam.com)

PejuangKantoran.com - Memang paling tidak enak kalau kita di-prank seseorang, atau suatu perusahaan. Jangan heran kalau orang yang kena prank merasa kesal atas perbuatan tersebut.

Hal inilah yang terjadi pada sebuah perusahaan startup kecantikan di India, yang dikecam karena trik pemasaran yang gagal.

Trik pemasaran itu terjadi setelah karyawan di YesMadam mengisi survei tentang kesehatan internal. Setelah itu, 100 karyawan menerima email yang menyatakan bahwa perusahaan membuat keputusan sulit untuk memberhentikan karyawan yang menunjukkan stres yang signifikan.

Baca Juga: Pegawai dengan Gaji Di Bawah Rp10 Juta Tak akan Dikenakan PPh Pasal 21

Email tersebut kemudian menjadi viral di media sosial setelah diunggah LinkedIn, dan langsung menuai ribuan reaksi dan komentar.

“Wah, jadi sekarang karyawan harus stres karena tidak menunjukkan stres? Itu ironi tingkat tinggi,” komentar seseorang.

Sementara yang lain menulis, “Jangan pernah menyelesaikan survei di tempat kerja, terutama yang mereka klaim anonim.”

Keburu viral, perusahaan startup itu kemudian menanggapi masalah PHK tersebut dengan sebuah pernyataan.

“Tidak seorang pun dipecat di YesMadam,” kata perusahaan itu. “Kami perjelas: Kami tidak akan pernah mengambil langkah yang tidak manusiawi seperti itu.”

Strategi berlebihan?

Baca Juga: 5 Hari Bekerja di Rumah, Mengapa CEO Glassdoor Menolak Bekerja Di Depan Anak-Anaknya?

Mayank Arya, salah satu pendiri dan CEO YesMadam, mengatakan foto di LinkedIn adalah langkah pertama dari inisiatif pemasaran yang menyoroti stres di tempat kerja dan kesehatan mental.

Menurutnya, kampanye tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya kerja yang lebih sehat. Arya juga mengakui kesalahan langkah tersebut dan menyampaikan "permintaan maaf yang sebesar-besarnya atas segala miskomunikasi yang terjadi."

"Saya sangat menyesalkan kebingungan atau ketidaknyamanan yang disebabkan oleh inisiatif ini," tulis Arya. "Tidak ada kepanikan di kantor, karena semua orang telah diberi tahu tentang kampanye tersebut sebelumnya."

Karthik Srinivasan, konsultan merek dan komunikasi, mengatakan kepada BBC News bahwa tidak ada tempat untuk kebohongan dalam periklanan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: People

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X