news

3 Kisah Pahit Pengejar Visa WHV Australia: Antara Janji Media Sosial dan Realita yang Kelam

Selasa, 23 Desember 2025 | 09:15 WIB
Ilustrasi: Banyak orang Indonesia yang rela meninggalkan pekerjaan mapan untuk mengejar pekerjaan sektor non formal melalui WHV di Australia. (Freepik)

Sayangnya, banyak pendatang baru menyadari beratnya beban kerja dan mahalnya biaya hidup setelah mereka tiba.

Lebih serius lagi, sebagian pemegang WHV bekerja di sektor berisiko tinggi. Ada laporan kecelakaan kerja di sektor-sektor penting, termasuk abattoir (rumah potong hewan).

Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, tercatat setidaknya sembilan warga Indonesia pemegang WHV meninggal dunia saat perjalanan ke atau dari tempat kerja.

Baca Juga: FIlm Dowajuseyo (Tolong Saya) Kombinasikan Urban Legend Lokal dan Korea Selatan dari POV Tokoh Wanita

Visa ditolak setelah menjual sawah

Masalah lain muncul dari konten dan praktik yang menyesatkan. Anwar Ibrahim, misalnya, tergerak berangkat ke Australia demi memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.

"Saya ingin pergi ke sana setelah melihat para influencer di Australia memamerkan keindahan kehidupan di sana dan janji upah yang tinggi,” ujarnya.

Untuk mengajukan WHV, Anwar membutuhkan surat rekomendasi dari pemerintah Indonesia. Setelah gagal mengurus sendiri, ia tergiur tawaran seseorang yang mengaku punya ordal di kantor imigrasi.

Demi mengejar mimpi, Anwar rela membayar USD 4.500 (sekitar Rp75 juta) dengan uang pinjaman dari orang tuanya, yang menjual sawah untuk memenuhi syarat tersebut.

Belakangan, ia baru tahu bahwa dokumen yang diterimanya palsu. Visanya ditolak, dan sekarang Anwar dihadapkan kenyataan pahit: utang keluarga dan masa depan yang kembali tidak pasti.

Baca Juga: AS Perketat Kebijakan Imigrasi, Sekarang Pemohon Visa Kerja akan Diperiksa Media Sosialnya

"Susah untuk mengumpulkan cukup uang untuk membeli sawah kami lagi. Meminjam dari orang lain mungkin juga pasti sulit," kata Anwar pasrah.

Jalur ordal yang dijanjikan hasilnya nol

Cerita serupa dialami Yopan Pakendek. Sejak 2018, ia bermimpi membangun karier di Australia setelah menonton video pemetik buah pemegang WHV.

Setelah empat kali gagal mendapatkan surat rekomendasi, rasa frustrasi membawanya ke seseorang bernama Sufiya yang mengelola grup konsultasi WHV di WhatsApp. Yopan diminta membayar puluhan juta rupiah, lagi-lagi dengan janji bantuan “jalur ordal”.

Halaman:

Tags

Terkini