Mereka juga menandatangani perjanjian tertulis yang menguraikan ketentuan pembayaran dan pengembalian dana.
"Saya membayar Rp25 juta di muka, tapi kemudian dia bilang orang dalam itu tidak bisa membantu karena mereka sedang diawasi oleh ombudsman," kata Yopan, menirukan alasan Sufiya.
Faktanya, uang yang sudah dikeluarkannya juga tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya, sebagian uang memang dikembalikan, tetapi tidak semuanya.
Yopan bilang, Sufiya memberitahu bahwa uang itu dipakai untuk membayar hacker untuk mengakses sistem komputer imigrasi. Peretas itu pernah dia pekerjakan ketika informannya tidak dapat membantu.
Baca Juga: Jangan Samakan Hari Ibu dengan Mother's Day, Keduanya Punya Latar Belakang yang Berbeda!
Pada ABC, Sufiya mengatakan bahwa tuduhan tersebut "tidak sepenuhnya benar" tetapi membenarkan adanya perjanjian pembayaran antara dirinya dan Pakendek.
"Mereka (para pelamar) minta bantuan saya, dan saya hanya membantu karena saya mengenal beberapa agen yang menangani visa," tukasnya. "Saya bukan broker… Saya tidak pernah menggunakan peretas."
Menurut Sufiya, harga yang ditawarkannya (berkisar antara Rp 30 - 40 juta), termasuk akses ke warnet berkecepatan tinggi, staf IT untuk pemecahan masalah, dan biaya pengajuan visa.
Namun Yopan merasa dirugikan, sehingga dia terus berusaha memperingatkan orang lain agar tidak terjebak skema serupa. Ia berharap tidak ada lagi yang kehilangan uang dan harapan karena janji manis yang tidak realistis.
Bekerja di Australia lewat WHV memang bukan mimpi instan. Sebelum membuat keputusan besar, lakukan riset secara mendalam. Pada akhirnya bekal terpenting adalah harapan yang realistis berdasarkan informasi resmi.
Artikel Terkait
Selain Berakting, Dian Sastrowardoyo Beranikan Diri Jadi Produser di Film Esok Tanpa Ibu
4 Frasa Kerja yang Terdengar Merendahkan: “Bahasa” yang Bisa Merusak Budaya Kerja
6 Buah Ini Direkomendasikan Ilmuwan Agar Kulit Kamu Lebih Sehat dan Lebih Glowing
Boleh Nggak Sih Crack Jari-jari Tangan Kalau Pegal? Cek di Sini Jawaban Para Ahli
Ōsōji: Tradisi Jepang Membersihkan Rumah dan Pikiran Menjelang Tahun Baru
Suara Kecil dari Aceh: Anak-anak Korban Banjir Memohon Bantuan Prabowo
Motherhood Penalty, Karier Bekerja Seorang Ibu yang Sering Terhambat. Ini Solusinya!