4 Frasa Kerja yang Terdengar Merendahkan: “Bahasa” yang Bisa Merusak Budaya Kerja

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Minggu, 21 Desember 2025 | 19:15 WIB
Ngopi sambil ngobrol santai adalah salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan apa pencapainmu kepada atasanmu. (Freepik)
Ngopi sambil ngobrol santai adalah salah satu cara yang efektif untuk menyampaikan apa pencapainmu kepada atasanmu. (Freepik)

 

 

 

PejuangKantoran.com - Di banyak tempat kerja, kita sering berinteraksi lewat kata-kata yang tampak biasa, baik itu saat rapat, mengirim email, maupun memberi masukan.

Namun menurut sejumlah profesional dan psikolog, beberapa frasa umum di lingkungan profesional sebenarnya dapat terasa merendahkan atau tidak menghargai pihak lain, bahkan jika tidak dimaksudkan demikian.

Fenomena ini mencerminkan bagaimana bahasa sehari-hari di kantor bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga membawa pesan tidak langsung tentang kekuatan, status, dan penghormatan. Ketika kata-kata itu dipilih tanpa sadar, mereka bisa memperkuat hierarki yang tidak sehat dan melemahkan hubungan kerja yang positif.

Ahli komunikasi dan konselor karier menyebut ada beberapa frasa yang sering dipakai tetapi bisa menimbulkan efek negatif, seperti:

Baca Juga: Pelan-pelan, Karyawan Muda Akhirnya Mau Balik ke Kantor demi Masa Depan Karier Mereka Sendiri

1. “Saya tidak bilang itu salah, tapi …”

Meskipun terkesan hati-hati, kalimat ini sering digunakan untuk menyuntikkan kritik secara terselubung, yang bisa dirasakan sebagai ponsolan atau merendahkan pendapat orang lain.

2. “Kalau kamu berpikir begitu, mungkin …”

Menggunakan struktur seperti ini bisa seolah-olah membongkar dan memutar kembali opini kolega, alih-alih merespons langsung dengan solusi atau pendapat yang setara.

3. “Saya tahu kamu … tapi …”

Frasa yang memakai “tapi” setelah pujian atau pengakuan dapat menciptakan perasaan bahwa komentar positif sebelumnya hanyalah formalitas belaka, karena “tapi” meniadakan semua yang sudah dikatakan.

4. “Kamu harus lebih berhati-hati dengan …”

Kalimat yang terdengar memerintah ini, terutama dalam konteks email atau pesan tertulis, dapat ditafsirkan sebagai kritik tanpa arah, meninggalkan penerima merasa diserang.

Baca Juga: Justin Barki Sumbangkan Bonus Emas SEA Games 2025 untuk Korban Banjir Bandang Sumut

Dampak dari Bahasa yang Tidak Disadari

Mengapa frasa-frasa ini bermasalah? Para ahli mengatakan bahwa bahasa kerja yang terdengar merendahkan dapat menyebabkan:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Huffington Post

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X