PejuangKantoran.com – Ramai di threads netizen mengeluh pusing ketika naik mobil listrik. @ullb_better menulis di utasnya, “Kenapa ya kepalaku lebih mudah pusing kalau naik mobil listrik? Adakah penjelasan ilmiah tentang ini? Lihat handphone aja pusing, apalagi baca.” Ada lagi @myharaniwulan, yang mengaku juga merasakan pusing selama 2 bulan memakai EV. “2 bulan pemakaian ev ngerasa pas naik mobil ini pusing, bahkan ga pernah ada riwayat vertigo tiba2 ada dong. Coba lg pakai apanja, xpand*r or bm* ga ada pusing2nya. Apakah sudah ada journal yg release fenomena ini? Saat ini lg rutin pakai jaeko.” Beberapa user di threads juga mengeluhkan hal yang sama.
Ternyata merasakan pusing saat berkendara menggunakan mobil EV bukan sekadar mitos atau efek psikologis semata. Sejumlah studi ilmiah terbaru menunjukkan bahwa karakteristik unik mobil listrik memang bisa memicu motion sickness (mabuk kendaraan) lebih mudah dibanding mobil konvensional.
Baca Juga: 20 Poin Check List Bagi Pemilik Mobil Listrik Agar Tak Rugi Rp200 Juta Seperti Kejadian di Florida
- Otak Bingung karena Tanpa "Aba-Aba" Suara Mesin
Di mobil bensin, suara mesin dan perpindahan gigi memberi sinyal ke otak bahwa mobil akan melaju kencang. Otak jadi punya waktu untuk "bersiap". Di mobil listrik, torsi instan langsung tersalur dari posisi diam tanpa suara mesin maupun jeda perpindahan gigi. Akibatnya, sistem vestibular (keseimbangan) di telinga dalam merasakan dorongan percepatan tiba-tiba, sementara indra pendengaran dan penglihatan tidak memberi sinyal yang sama. Ketidaksesuaian sinyal inilah yang oleh para ahli disebut sensory conflict — akar utama dari motion sickness.
- Regenerative Braking: Biang Kerok yang Sudah Divalidasi Riset
Salah satu fitur andalan EV, regenerative braking (pengereman regeneratif), ternyata terbukti menjadi penyebab utama mual pada penumpang. Studi Xie dkk. yang dipublikasikan di International Journal of Human–Computer Interaction (2025) melakukan uji jalan terhadap 16 partisipan yang rentan mabuk kendaraan. Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa tingkat regenerative braking yang lebih tinggi dapat memicu motion sickness. Studi lanjutan juga menemukan hal serupa: level regenerative braking yang lebih tinggi menghasilkan persentase penumpang yang mengalami motion sickness paling besar.
Baca Juga: 9 Hal yang Harus Kamu Perhatikan dalam Perawatan Mobil Listrik Agar Awet
Pengereman regeneratif membuat mobil melambat cukup kuat begitu pedal gas dilepas — berbeda dari mobil bensin yang melambat bertahap. Tubuh mengalami deselerasi mendadak dan gerakan mengangguk (pitching) berulang, terutama saat pedal gas tidak dikendalikan secara halus. Bagi penumpang di kursi belakang yang tidak bisa memprediksi gerakan ini secara visual, efeknya semakin terasa.
- Kabin Senyap yang Justru Jadi Bumerang
Ironisnya, salah satu kelebihan EV — kabin yang sunyi tanpa suara mesin — juga berkontribusi pada rasa tidak nyaman. Tanpa background noise dari mesin, getaran frekuensi rendah (20–200 Hz) dari ban, jalan, atau suspensi jadi lebih terasa dan asing bagi otak. Kondisi ini mirip efek active noise cancellation yang terlalu kuat pada headphone: telinga terasa "tertekan", memicu kelelahan hingga mual pada sebagian orang.
Diperkuat Temuan Internasional Lain
Media sains dan otomotif internasional turut mengonfirmasi pola ini. Menurut para ilmuwan yang diwawancarai The Guardian, dua faktor utama penyebab mual di EV adalah pengereman regeneratif dan minimnya getaran mesin. Sementara itu, riset dari Hong Kong University of Science and Technology (Guangzhou) turut menemukan bahwa sistem pengereman regeneratif secara langsung dapat memicu gejala motion sickness. Pakar otomotif John Voelcker juga menegaskan kepada ABC News bahwa pengereman regeneratif yang kuat, yang menangkap energi secara maksimal, dapat menyebabkan motion sickness.
Baca Juga: Hyundai Luncurkan IONIQ 5 Limited Edition, Mobil Listrik Bergaya dengan Sentuhan Budaya Indonesia
Kabar Baiknya: Otak Bisa Beradaptasi
Untungnya, kondisi ini bersifat sementara. Proses adaptasi ini disebut habituasi sistem vestibular — otak akan mengkalibrasi ulang ekspektasinya seiring pengalaman. Pengemudi umumnya butuh beberapa hari hingga 1–2 minggu berkendara rutin untuk terbiasa, sementara penumpang biasanya butuh 1–3 minggu tergantung sensitivitas individu.
Beberapa cara mempercepat adaptasi dan mengurangi rasa mual: