Ini Alasan Ringgo Agus Rahman Mau Kembali Berperan sebagai Bapak di Film 'Panggil Aku Ayah'

photo author
Syanne Susita, Pejuang Kantoran
- Selasa, 15 Juli 2025 | 08:29 WIB
Dalam film Panggil Aku Ayah, Ringgo Agus Rahman kembali berperan sebagai ayah.  (Visinema)
Dalam film Panggil Aku Ayah, Ringgo Agus Rahman kembali berperan sebagai ayah. (Visinema)

PejuangKantoran.com - Setelah sukses dengan film animasi Jumbo yang berhasil menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, Visinema Studios menghadirkan drama komedi tentang keluarga yang tumbuh bukan dari hubungan darah.

Dedi (Ringgo Agus Rahman), yang bekerja sebagai penagih utang bersama sepupunya, Tatang (Boris Bokir), mendadak harus mengasuh Intan (Myesha Lin).

Intan awalnya dijadikan jaminan utang oleh sang ibu, Rossa (Sita Nursanti),  sebelum meninggalkan anaknya untuk menjadi TKI.

Baca Juga: Usia Pensiun di Perusahaan Swasta Boleh Berbeda, Asalkan Sah menurut Pemerintah

Cerita Panggil Aku Ayah merupakan film adaptasi dari film panjang Korea berjudul Pawn yang dirilis tahun 2020. Film ini diadaptasi dengan memasukkan banyak unsur lokal untuk membuat penonton merasa ada kedekatan dengan ceritanya. Selain itu juga agar dapat merefleksikan makna keluarga.

Panggil Aku Ayah, judul yang kami sepakati, adalah cerita yang menarik. Lahir dari obrolan tidak sengaja bersama Christian Immanuel. Dia masuk ke ruangan dan bilang ‘Teh, ada satu film yang saya rasa ini bagus sekali buat kamu.’

"Ketika saya duduk dengan Novia Puspa Sari (produser), kita setuju ini menarik. Kolaborasi dengan CJ Entertainment juga menyenangkan dan selaras dengan komitmen Visinema Studios.

"Kami ingin menghadirkan konten yang bisa dinikmati semua keluarga Indonesia,” ujar Anggia Kharisma, produser film dan Chief Content Officer Visinema Studios, saat konferensi pers di Senayan City XXI, Jumat (04/07/2025).

Secara pribadi, film ini sangat personal bagi Anggia karena pada saat pengerjaan film ini, ia kehilangan ayahanda tercinta.

“Ini very personal karena di momen pengerjaan produksi, saya mengalami kedukaan. Ayah saya meninggal dan saya rasa film ini jadi sebuah bentuk di mana saya bisa merayakan hidup.

Baca Juga: Pola Makan Washoku ala Jepang Ternyata Membantu Menurunkan Depresi di Kalangan Pekerja

"Ini adalah sebuah method yang saya pakai untuk bisa menyelami apa arti cintanya ayah yang ternyata segitu besar untuk anaknya!” tambahnya.

Mengadaptasi dari film yang sebelumnya sudah ada tetap saja ada tantangannya. Agar film Panggil Aku Ayah ini punya kedekatan emosional yang mendalam perlu adanya proses kolaboratif.

“Dari production design Panggil Aku Ayah, kita ingin mengangkat kehidupan yang dekat dengan banyak orang. Dalam filmnya, kami menghadirkan elemen-elemen yang biasa kita lihat di kehidupan sehari-hari.

"Bagaimana karakter ini tinggal di ruang keluarga yang sederhana, begitu juga area pasar dan jalanannya,” terang Novia yang juga bertindak sebagai produser di film Jumbo.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X