PejuangKantoran.com - Sejak Kamis (16/4/2026) layar bioskop menghadirkan tontonan yang berbeda dari biasanya. Ghost in the Cell, film garapan sutradara Joko Anwar, menggabungkan horor komedi yang segar dan sangat menghibur.
Jokan -sapaan karib Joko Anwar- menyebut film ini membawa pesan reflektif tentang situasi sosial politik Indonesia. Menurutnya, hal itu juga menjadi keresahan kolektif warga negara Indonesia.
Tak hanya menarik sebagai tontonan, banyak cerita di balik pembuatan film ini yang tidak kalah menarik. Hal itu terungkap saat konferensi pers Ghost in the Cell di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (9/4/2026). Berikut beberapa di antaranya.
Baca Juga: Film 'Ghost In The Cell' Jadi Refleksi Keresahan Joko Anwar terhadap Situasi Absurd di Indonesia
1. Melibatkan total 188 pemain
Untuk menciptakan lingkungan narapidana, Joko Anwar merekrut total 188 pemain, di mana 21 di antaranya merupakan pemain inti. Mereka adalah Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Morgan Oey, Aming, Lukman Sardi, Yoga Pratama, Mike Lucock, Danang Suryonegoro, Arswendy Bening Swara, Bront Palarae, Kiki Narendra, Haydar Salishz hingga aktor-aktor cilik seperti Farell Rafisqy dan King Raja Nasution.
“Aku dan teman-teman di Come and See Pictures ingin film ini jadi showcase para aktor untuk bisa stretching their muscles, exercise acting muscle. Ensemble cast 21 orang dengan total bersama ekstranya sekitar 188 orang.
"Semua kita brief bareng. Tidak ada yang dinomorduakan, nomortigakan, semuanya sama! There's no small role. Semuanya sangat penting," ujar Jokan.
2. Menampilkan 6 karya instalasi seniman macabre art
Salah satu daya tarik film ini adalah adegan kematian beberapa tokoh yang dihadirkan dalam bentuk instalasi seni yang sangat mencengangkan. Jokan mengatakan bahwa jenis instalasi tersebut dinamakan macabre art.
Baca Juga: Sinopsis 'Ghost In The Cell', Film Berlatar Penjara Bertabur Aktor Terkenal Garapan Joko Anwar
Inilah seni yang mengeksplorasi tema-tema gelap dan mengerikan tentang kematian dan hal-hal gaib. Tema tersebut sering ditampilkan dalam bentuk kerangka atau hantu untuk membangkitkan rasa ngeri.
Seniman yang direkrut Joko Anwar untuk mengerjakan instalasi macabre art ini adalah enam ilustrator tanah air, yakni: Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO.
“Mayat dibentuk sedemikian rupa menjadi bentuk instalasi macabre art. Kita bekerja sama dengan enam ilustrator terbaik Indonesia. Mereka sudah melalang buana ke banyak proyek di seluruh dunia.
"Karya ilustrasi mereka sudah mendapat publikasi yang luar biasa, termasuk DC and Marvel. Kita memang menginginkan film ini menampilkan lintas medium, lintas profesi para seniman Indonesia yang terbaik di masing-masing bidangnya!” jelas sutradara yang pertama masuk ke dunia film dengan menulis skenario film Arisan! (2003) itu.
Artikel Terkait
Masih Suka Menyimpan Ini di Dompet? Bisa Berisiko Tanpa Disadari
Tanpa ART? Peralatan Ini Bisa Jadi “Asisten” Baru di Rumah Saat Ritme Kembali Sibuk
Starbucks Gunakan Percakapan ChatGPT untuk Membantu Konsumen Mendapat Rekomendasi Minuman
1 dari 5 Karyawan Ternyata Overqualified, tapi Dilakukan Sukarela karena Berbagai Alasan
31% Orang Berharap Kenaikan Gaji Bisa Membantu Mengatasi Masalah Keuangan, Padahal....
6 Kebohongan yang Sering Diungkapkan Pasien saat Konsultasi ke Dokter, Akibatnya Bahaya Banget!
Nggak Cuma Jual Kenangan, Begini Cara Edward Tirtanata Membawa Kopi Lokal Jadi Unicorn