PejuangKantoran.com - Di Indonesia, kebijakan kembali ke kantor (WFO) atau hybrid (online dan offline) sudah diterapkan sejak situasi pandemi membaik. Di luar negeri, urusan di mana harus bekerja masih saja menjadi perdebatan sehingga situasi kantor jadi memanas.
Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Google, X, Meta, Microsoft, Amazon, bahkan Zoom, telah meminta karyawan kembali ke kantor. Namun banyak karyawan yang menolak tuntutan perusahaan untuk kembali ke kantor.
Sebagian karyawan juga bersikeras untuk bekerja dari rumah. Alasannya, karena mereka berusaha menghindari atasan di kantor, demikian hasil survei Beyond, merek ruang kerja dan co-working.
Baca Juga: Buat Cewek-cewek Pencinta Makeup, Ini Rekomendasi Makeup dan Skincare Buat Kamu
Survei ini merupakan hasil kerjasama dengan Business Insider terhadap 1.262 karyawan penuh waktu dan paruh waktu di Inggris antara tanggal 13-18 Oktober 2023. Tujuannya untuk mengetahui apa yang menghalangi karyawan untuk datang ke kantor.
Responden diberikan serangkaian pernyataan, apakah mereka setuju atau tidak setuju datang ke kantor. Ini termasuk pernyataan seperti "Manajer/atasan saya yang ada di kantor membuat saya tidak bisa datang ke kantor secara rutin."
Menurut Beyond, 30% karyawan setuju dan mengatakan bahwa mereka akan lebih sering ke kantor jika bos tidak ada di sana.
Dua pertiga dari karyawan mengatakan bahwa kenaikan biaya hidup di Inggris membuat mereka ingin bekerja dari rumah untuk menghemat uang.
Lalu, 54% karyawan setuju bahwa mereka akan bekerja lebih keras jika kantor mereka memiliki lokasi yang lebih baik, yang lebih dekat dengan rumah atau sesuai dengan keinginan mereka.
Sebanyak 38% berharap ruang kerja mereka memiliki standar yang lebih baik, dan 30% karyawan hybrid mengeluh perusahaan mereka tidak menawarkan pengaturan kerja yang mereka sukai.
Alasan karyawan menghindari atasan di kantor kemungkinan karena ketegangan antara manajer yang meminta karyawan kembali ke kantor, dan karyawan yang ingin tetap bekerja dari rumah. Ketegangan ini sudah meningkat secara signifikan pasca pandemi.
Baca Juga: Mengapa Israel Tak Ikut Piala Asia?
Dorongan perusahaan-perusahaan besar agar karyawan kembali ke kantor sering kali membuat karyawan kecewa.
Google, misalnya, sudah meminta karyawan kembali ke kantor tiga hari dalam seminggu. Karyawan bahkan diancam, penolakan untuk kembali ke kantor bisa berdampak negatif pada tinjauan kinerja mereka.
Banyak karyawan yang merasa frustrasi mengenai peraturan tersebut, dan mengatakan, "Kami tidak suka diatur secara ketat seperti anak sekolah."
Artikel Terkait
Gegara Marah, Lionel Messi Dapat Penghargaan Unik Sekali Seumur Hidupnya
Semakin Banyak Pekerja Muda yang Ingin Bekerja di Luar Negeri, tapi Khawatir dengan Hambatan Bahasanya
Apa Sebenarnya Pekerjaan Pangeran Abdul Mateen, yang Kerap Dampingi Sultan Bolkiah dalam Kunjungan Kenegaraan?
Amnesty International Buka Lowongan Kerja Human Resources Officer untuk yang Peduli Perjuangan Hak Asasi Manusia
Kalimat yang Bikin Rekruter Yakin bahwa Kamu Tertarik dan Cocok pada Pekerjaan yang Kamu Lamar
Laura Basuki Rela Turunkan Badan 5 Kilo Demi Memerankan Istri Korban KDRT di Sehidup Semati
Piala Asia 2023, 4 Negara Asia Tenggara Ikut, Hanya Indonesia dan Vietnam yang Saling Bunuh