PejuangKantoran.com - Cara kerja work from anywhere sekarang ini membuat karyawan sulit terlacak keberadaannya. Apalagi bagi karyawan yang suka memanfaatkan keleluasaan atau fleksibilitas tersebut untuk keuntungan pribadinya.
Misalnya saja, bagi karyawan yang merasa stres sekarang memilih untuk melakukan tren baru yang disebut quiet vacationing, atau mengambil cuti kerja tanpa memberi tahu atasan.
Karyawan yang sedang quiet vacationing umumnya langsung berangkat berlibur dan login ala kadarnya untuk memberi kesan pada orang kantor bahwa mereka sedang online seperti biasa.
Baca Juga: Bayu Skak Garap Film Sekawan Limo sebagai Komedi Horor dengan Gaya Jawa Timuran
Sepintas, cara ini mungkin terlihat seperti solusi yang bisa diterapkan kalau kamu butuh istirahat tetapi kamu merasa tidak bisa sepenuhnya menjauh selama satu atau dua minggu.
Tetapi kalau dilihat lebih dekat, quiet vacationing menunjukkan adanya masalah serius dalam budaya perusahaan dan kelangsungan hidup karyawan dalam jangka panjang.
“Quiet vacationing, fenomena yang mengikuti tren 'quiet' terbaru, adalah saat karyawan mengusahakan work life balance dengan memanfaatkan waktu istirahat tanpa memberi tahu atasan atau mengajukan permintaan PTO (Paid Time Off),” kata Karyn Rhodes, VP HR Services di isolved.
Fenomena ini menunjukkan, banyak karyawan memilih untuk diam tentang bagaimana mereka berusaha bertahan dalam kesibukan sehari-hari.
Padahal kalau kamu memutuskan untuk diam tentang apapun yang terjadi di kantor, pasti karena ada masalah.
Baca Juga: Viral Paspor Lecet Selebgram Medan, Kenali Ciri-ciri Paspor Rusak yang Dilarang Terbang
Mengapa tidak mengambil cuti kerja saja?
Di Amerika, perusahaan menawarkan rata-rata 10 hari PTO atau cuti berbayar gabungan per tahun. Jatah PTO ini bisa dipakai untuk liburan, istirahat karena sakit, dan keperluan pribadi.
Namun menurut beberapa perkiraan, 55% PTO tidak dimanfaatkan setiap tahunnya.
“Ada banyak alasan mengapa hal ini terjadi, sebagian besar disebabkan oleh tekanan yang dialami karyawan untuk bekerja,” kata Rhodes.
“Data menunjukkan bahwa hampir 50% karyawan merasa tidak nyaman mengambil cuti kerja, dan ketika mereka melakukannya, mereka masih merasakan tekanan untuk tetap standby.”
Artikel Terkait
Justin Bieber Tiba di Mumbai untuk Tampil di Pernikahan Anant Ambani dan Radhika Merchant
Hasyim As'yari Dipecat Jadi Ketua KPU Karena Asusila, Simak Aturan Kepegawaian Soal Pelanggaran Asusila
Lowongan Kerja Social Media Marketing (Seller/Merchant) di Lazada
Kartu Prakerja Gelombang 70 Dibuka, Ini 5 Masalah Kartu Prakerja yang Sering Dikeluhkan Peserta
5 Cara Agar Bisa Menabung Banyak dengan Gaji Pas-pasan yang Kamu Punya Sekarang
Akhirnya Terungkap, Judul Film Bertema Formula 1 yang Dibintangi Brad Pitt
Beasiswa LPDP Longgarkan Batas Usia Maksimum untuk Para Dosen Tetap dengan NIDN