Rasa Menyesal Setelah Resign Muncul karena Orang Selalu Berpikir Rumput Tetangga Lebih Hijau?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 17 Juli 2024 | 18:46 WIB
Ilustrasi: Rasa menyesal setelah resign merupakan bagian dari proses mencari pekerjaan. (Freepik)
Ilustrasi: Rasa menyesal setelah resign merupakan bagian dari proses mencari pekerjaan. (Freepik)


PejuangKantoran.com - Situasi perusahaan yang memanas, atau diterpa isu yang kurang sedap, mungkin akan mendorong beberapa karyawan untuk mengundurkan diri.

Karyawan lain yang melihat rekan-rekannya satu per satu keluar, mungkin akan merasa ditinggalkan.

Karyawan-karyawan ini mulai mengamati perusahaan lain yang tampaknya lebih mapan, sambil berharap andai saja mereka bisa bergabung di sana.

Baca Juga: Menyesal Setelah Resign dari Kantor, Ternyata Bukan karena Meninggalkan Pekerjaan Lama

“Dan rumput selalu lebih hijau – kita cenderung terlalu memikirkan sisi positif ketika mencoba sesuatu yang baru,” kata Anthony Klotz, professor manajemen di Mays Business School, Texas A&M University, AS.

Pasar tenaga kerja yang ketat terkadang juga membuat karyawan yang sebenarnya masih merasa puas dengan perusahaan tempat mereka bekerja saat ini, tetapi merasa sedikit frustrasi, jadi tergoda untuk pindah kerja.

Mereka tergiur untuk mengejar gaji yang lebih tinggi daripada bertahan dan mengatasi masalahnya. Menurut Klotz, mereka lebih mudah untuk berhenti daripada melakukan pembicaraan sulit dengan manajemen.

“Ketika seseorang mengundurkan diri, sering kali hal itu bukan karena mereka membenci pekerjaannya. Mereka mungkin menyukai 80% pekerjaannya, namun tidak menyukai 20% pekerjaan lainnya.

“Ketika pindah, sering kali mereka ingin menyelesaikan masalah 20% tersebut – dan berasumsi bahwa hal-hal baik dalam pekerjaan mereka saat ini akan ada dalam posisi mereka yang baru.

“Namun banyak orang tidak menyadari bahwa setiap pekerjaan memiliki permasalahan yang berbeda-beda,” katanya.

Baca Juga: 6 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Soal Visa Workcation Alias Digital Nomad di Korea

Klotz percaya bahwa dalam situasi seperti inilah para pekerja dapat merasakan penyesalan yang paling besar dari mereka yang berhenti bekerja.

Mereka akan merenungkan bagaimana keputusan buruk bisa berdampak pada karir jangka panjang.

“Saat berganti pekerjaan kamu akan menghadapi masa transisi yang sulit,” kata Klotz. “Semakin lama kamu berada dalam kondisi tersebut, dan terus memendam penyesalan, semakin sulit untuk terlibat di tempat kerja baru kamu. Hal ini berdampak negatif terhadap kinerja pekerjaan.”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes, BBC, EuroNews

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X