Kalau Tak Mau Gagal, Bos Harus Sering-Sering Business Trip (Kata CEO JPMorgan Jamie Dimon)

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 31 Juli 2024 | 10:57 WIB
Ilustrasi: Mengapa bos-bos harus sering business trip dan menjadikannya rutinitas? (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Mengapa bos-bos harus sering business trip dan menjadikannya rutinitas? (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.comBusiness trip, apalagi yang ke luar negeri, sepertinya menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh pekerja kantoran. Perjalanan dinas menjadi sarana refreshing karena bisa jalan-jalan gratis.

Namun bagi mereka yang business trip-nya sudah menjadi rutinitas, apa yang ingin dicapai selama perjalanan tersebut menjadi jauh lebih penting daripada sekadar “liburan yang dibayari kantor”.

Misalnya, ada tujuan khusus mengapa bos-bos harus sering business trip, meskipun penggunaan Zoom atau GoogleMeet sudah bisa mengatasi kendala jarak dan waktu.

Baca Juga: Meta Buka Lowongan Pekerjaan di Indonesia untuk Jadi Public Policy Manager

Menurut CEO JPMorgan Jamie Dimon, perjalanan bisnis sudah lama menjadi bagian penting dari pekerjaan seorang CEO.

Dimon mengakui bahwa ia terus-menerus bepergian karena para eksekutif harus memprioritaskan interaksi tatap muka dengan karyawan, pelanggan, dan klien perusahaannya.

“Para pemimpin harus keluar. Mereka harus keluar sepanjang waktu. Mereka harus (selalu) ingin tahu; mengajukan sejuta pertanyaan,” katanya saat diwawancara di seri This is Working di LinkedIn.

Jika bos-bos sering business trip, menurut Dimon, mereka akan mampu mengidentifikasi dan belajar dari kompetitor tentang posisi pasar perusahaan mereka, serta memahami kebutuhan dan kritik klien.

“Saya selalu memberi tahu klien, ketika Anda mengeluh kepada kami, Anda membantu kami. Jika kami menyiksa Anda, kami mungkin menyiksa 10.000 atau 100.000 orang lainnya,” katanya.

Kepala investment banking tersebut menepis alasan sebagian pemimpin bahwa mereka merasa terlalu sibuk untuk meninggalkan meja kerja.

Baca Juga: 5 Tahap Project Management, dari Inisiatif hingga Hasil Akhir yang Diharapkan

“Mereka melakukan kesalahan besar. Jika Anda tidak memiliki penilaian akurat tentang dunia nyata di luar sana —apa yang berubah, apa yang mereka lakukan, apa saja idenya—akhirnya Anda akan gagal,” tukas pria yang sudah menjabat sebagai CEO sejak 2006 itu.

Perusahaan dengan pemimpin seperti itu akan menjadi stagnan, birokratis, dan berpuas diri, tambahnya. Kebalikan dari atribut-atribut tersebut adalah rasa ingin tahu, keberanian, dan hati.

Ia mengutip usaha JPMorgan dalam bidang AI sekitar tahun 2012.

Tahun itu, ia mengirim tim perbankan konsumen teratasnya ke Tiongkok dan mengatur pertemuan dengan perusahaan-perusahaan besar, termasuk Ping An, WeChat, Tencent, dan Alibaba.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune, Yahoo Finance

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X