Studi: Jangan Sembarangan Kirim Banyak Lamaran Kerja, Bisa Bahaya!

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 17 Januari 2025 | 18:58 WIB
Ilustrasi: Kamu bisa mem-follow up lamaran kerja kamu jika memang sangat membutuhkan pekerjaan tersebut. (Freepik/Rawpixel.com)
Ilustrasi: Kamu bisa mem-follow up lamaran kerja kamu jika memang sangat membutuhkan pekerjaan tersebut. (Freepik/Rawpixel.com)

PejuangKantoran.com - Tahun baru membawa harapan baru bagi banyak profesional di Indonesia, terutama yang tengah mencari peluang karier lebih baik.

Menurut data terbaru, sekitar 7 dari 10 (70%) profesional Indonesia mengaku berencana mencari pekerjaan baru pada 2025, sebuah angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang hanya sebesar 58%.

Meskipun semangat baru muncul, proses pencarian pekerjaan kini semakin menantang dan memerlukan pendekatan yang lebih strategis.

Baca Juga: Komit pada Praktik Sustainable Finance, BRI Menjadi Satu-Satunya BUMN Penerbit Obligasi Hijau di Tahun 2024

Proses Pencarian Kerja yang Semakin Menantang

Data dari LinkedIn mengungkapkan bahwa hampir 6 dari 10 (59%) pencari kerja di Indonesia mengaku pernah mengalami "ghosting" dari perekrut—di mana mereka tidak menerima respons setelah mengirimkan lamaran atau menghubungi tim perekrut.

Akibatnya, lebih dari setengah responden (58%) merasa bahwa proses pencarian pekerjaan menjadi lebih sulit, dan hampir 6 dari 10 (59%) menganggap bahwa pencarian pekerjaan kini memakan waktu lebih lama dibandingkan setahun lalu.

Lalu bagaimana caranya agar bisa dapat pekerjaan baru? Caranya adalah dengan memperbaharui strategi pencarian kerja.

Tak dimungkiri, mencari pekerjaan kini telah menjadi permainan peluang. Rata-rata, profesional Indonesia menghabiskan waktu hingga empat jam per minggu untuk mengirimkan sekitar lima lamaran pekerjaan.

Sekitar 42% di antaranya percaya bahwa semakin banyak lamaran yang dikirimkan, semakin besar peluang untuk mendapatkan pekerjaan. Keyakinan ini terutama dimiliki oleh Generasi Z (45%) dan Milenial (43%). Namun, kenyataannya, strategi ini seringkali tidak efektif, dengan 43% profesional yang mengaku mengirim lebih banyak lamaran namun tidak mendapatkan balasan.

Baca Juga: Penuhi Kewajiban sebagai BUMN, BRI Setorkan Dividen Interim Rp10,88 Triliun Ke Negara

Sementara itu, perekrut juga merasa kewalahan dengan jumlah lamaran yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Sekitar 80% perekrut melaporkan bahwa mereka menerima lebih banyak lamaran dibandingkan tahun lalu, namun 29% dari mereka menghabiskan waktu 3-5 jam setiap hari hanya untuk menyaring lamaran yang masuk. Ironisnya, tidak ada satupun dari lamaran yang benar-benar memenuhi kualifikasi yang mereka cari.

Pendekatan Baru yang Lebih Strategis

Serla Rusli, LinkedIn Career Expert, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih strategis dalam melamar pekerjaan. Ia mengingatkan bahwa mengirimkan terlalu banyak lamaran tanpa mempertimbangkan kecocokan keterampilan justru bisa membuat para pencari kerja kecewa. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X