3 Salah Kaprah Yang Biasa Dilakukan Oleh Pemimpin Dalam Menghadapi Masalah Karyawan

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 1 Maret 2025 | 14:41 WIB
Anggota tim atau karyawan terkadang hanya ingin didengarkan dan dipahami masalahnya. (Freepik)
Anggota tim atau karyawan terkadang hanya ingin didengarkan dan dipahami masalahnya. (Freepik)

Pejuangkantoran.comMenghadapi anggota tiam yang sedang marah dan sedih, itu tricky. Karena kalau sebagai pemimpin kamu salah dalam memperlakukan anggota tim tersebut, entah salah bicara atau malah mendiamkannya, ujungnya bisa fatal.

Oleh karena itu, perlu punya keterampilan tersendiri untuk hal itu. Hbr.org melakukan tinjauan terhadap 220 penelitian tentang dampak cara orang merespons emosi orang lain di tempat kerja, yang diterbitkan pada tahun 2024.

Menurut situs ini terdapat bukti bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan pemimpin ketika mereka melihat karyawannya kesal, frustrasi, atau kewalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat besar.

Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan hbr.org pada tahun 2018 menemukan bahwa tim yang pemimpinnya memahami perasaan dan emosi anggotanya memiliki kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan tim yang pemimpinnya tidak.

Ini karena pemimpin terbaik sangat memperhatikan tujuan karyawan di tempat kerja dan bereaksi terhadap emosi orang-orang dengan cara yang mendukung tujuan tersebut.

Mereka juga tahu kapan harus mengakui perasaan karyawan, kapan harus memberikan nasihat, dan kapan harus memberikan ruang dan waktu kepada karyawan untuk menangani emosi mereka secara pribadi.

Namun terkadang kondisi ideal seorang pemimpin itu tidak selalu dipunyai, terutama pemimpn yang jam terbangnya belum tinggi. Oleh akrena itu, kamu perlu tahu juga tiga kesalahpahaman umum yang dilakukan oleh pemimpin dalam menghadapi emosi karyawan yang harus kamu hindari

Baca Juga: 3 Tanda Seseorang Punya Keterampilan Leadership yang Baik, Cocok Jadi Pemimpin!

Salah Kaprah #1: Membahas Emosi di Tempat Kerja Itu Tidak Profesional

Banyak kesalah kaprahan yang dipercaya bahwa membicarakan emosi (perasaan) di tempat kerja dapat meningkatkan ketegangan atau mengalihkan perhatian karyawan dari pekerjaan mereka.

Namun kenyataannya, dari berbagai survei dan riset, membicarakan emosi atau perasaan karyawan atau anggota tim itu penting.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh Alisa Yu, Justin Berg, dan Julian Zlatev menemukan bahwa mengakui emosi rekan kerja dapat membangun kepercayaan.

Tidak perlu rumit, cukup dengan mengatakan, misal, “Saya bisa mengerti mengapa Anda khawatir tentang tenggat waktu,” atau sederhananya, “Kamu sepertinya agak sedih”.

Singkatnya, para pemimpin akan lebih mudah membantu timnya mencapai tujuan profesional mereka ketika mereka berani terlibat dengan emosi karyawan secara konstruktif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: hbr.org

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X