Pejuangkantoran.com – Menghadapi anggota tiam yang sedang marah dan sedih, itu tricky. Karena kalau sebagai pemimpin kamu salah dalam memperlakukan anggota tim tersebut, entah salah bicara atau malah mendiamkannya, ujungnya bisa fatal.
Oleh karena itu, perlu punya keterampilan tersendiri untuk hal itu. Hbr.org melakukan tinjauan terhadap 220 penelitian tentang dampak cara orang merespons emosi orang lain di tempat kerja, yang diterbitkan pada tahun 2024.
Menurut situs ini terdapat bukti bahwa apa yang dikatakan atau dilakukan pemimpin ketika mereka melihat karyawannya kesal, frustrasi, atau kewalahan dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat besar.
Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan hbr.org pada tahun 2018 menemukan bahwa tim yang pemimpinnya memahami perasaan dan emosi anggotanya memiliki kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan tim yang pemimpinnya tidak.
Ini karena pemimpin terbaik sangat memperhatikan tujuan karyawan di tempat kerja dan bereaksi terhadap emosi orang-orang dengan cara yang mendukung tujuan tersebut.
Mereka juga tahu kapan harus mengakui perasaan karyawan, kapan harus memberikan nasihat, dan kapan harus memberikan ruang dan waktu kepada karyawan untuk menangani emosi mereka secara pribadi.
Namun terkadang kondisi ideal seorang pemimpin itu tidak selalu dipunyai, terutama pemimpn yang jam terbangnya belum tinggi. Oleh akrena itu, kamu perlu tahu juga tiga kesalahpahaman umum yang dilakukan oleh pemimpin dalam menghadapi emosi karyawan yang harus kamu hindari
Baca Juga: 3 Tanda Seseorang Punya Keterampilan Leadership yang Baik, Cocok Jadi Pemimpin!
Salah Kaprah #1: Membahas Emosi di Tempat Kerja Itu Tidak Profesional
Banyak kesalah kaprahan yang dipercaya bahwa membicarakan emosi (perasaan) di tempat kerja dapat meningkatkan ketegangan atau mengalihkan perhatian karyawan dari pekerjaan mereka.
Namun kenyataannya, dari berbagai survei dan riset, membicarakan emosi atau perasaan karyawan atau anggota tim itu penting.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2021 oleh Alisa Yu, Justin Berg, dan Julian Zlatev menemukan bahwa mengakui emosi rekan kerja dapat membangun kepercayaan.
Tidak perlu rumit, cukup dengan mengatakan, misal, “Saya bisa mengerti mengapa Anda khawatir tentang tenggat waktu,” atau sederhananya, “Kamu sepertinya agak sedih”.
Singkatnya, para pemimpin akan lebih mudah membantu timnya mencapai tujuan profesional mereka ketika mereka berani terlibat dengan emosi karyawan secara konstruktif.
Artikel Terkait
Pemimpin Wajib Pahami The Big Five Personality Anggota Timnya Supaya Sukses Dalam Kerja Tim
5 Perilaku Mendasar yang Dibutuhkan Oleh Seorang Pemimpin Agar Efektif Kepemimpinannya
Pemimpin Tidak Harus Tahu Segalanya, Ini Jawaban Bijak ketika Ditanya Sesuatu yang Tidak Kamu Pahami
Berminat Jadi Team Leader? Ini Tanggung Jawab dan Keterampilan yang Harus Kamu Miliki
3 Kebiasaan Buruk yang Perlu Dihindari Pemimpin Muda, Biar Malah Nggak Disebelin Karyawan
Bukan Hanya Membangun Hubungan, Ini Manfaat Pemimpin yang Mau Meluangkan Waktu bersama Karyawannya
Sebagai Pemimpin, Kamu Sebaiknya Belajar Tingkatkan Kecerdasan Emosional. Ini 5 Caranya!