PejuangKantoran.com - Sudah beberapa tahun artificial intelligence (AI) mulai mencoba menguasai dunia kerja. Banyak pemilik perusahaan yang bahkan mulai menggunakan teknologi ini untuk menjalankan bisnisnya.
Untuk memantau penggunaan AI di tempat kerja, perusahaan unicorn AI, Dataiku, menyelenggarakan “kunjungan lapangan” selama enam tahun terakhir untuk para eksekutif yang menjadi pelanggannya.
CEO Dataiku, Florian Douetteau, memiliki beberapa catatan yang ia ambil selama melakukan kunjungan lapangan tersebut.
Baca Juga: Ini Kebiasaan Orang Indonesia dalam Membeli Asuransi Perjalanan Buat Liburan, Suka Last Minute!
Pertama, Douetteau menyebut bahwa seorang CEO mengatakan bahwa OpenAI adalah otak perusahaannya, tetapi tidak yakin dengan keberlangsungan teknologi tersebut.
“Besok Google atau perusahaan lain mungkin akan menemukan teknologi baru. Jika kami menggunakan perusahaan GPT atau Co-pilot, kami akan terkunci dalam satu ekosistem. Kita tidak menginginkan hal itu,” tegasnya.
Eksekutif lain juga menyebut bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya menyesuaikan atau mengatur penggunaan AI di tempat kerja agar sesuai dengan kebutuhan. Menurut mereka, itu rasanya seperti membiarkan orang lain memutuskan bagaimana bisnis harus berjalan.
“Itu adalah tingkat risiko yang tidak saya sukai,” ujar eksekutif tersebut.
CEO bakal kehilangan pekerjaan?
Douetteau mengatakan, di antara lebih dari 120 eksekutif yang hadir, ia melihat ada sedikit kecemasan tentang bagaimana menerjemahkan topik AI yang berpotensi luas menjadi keuntungan bisnis yang nyata.
Baca Juga: Jadi Gundik di Film Gundik, Luna Maya: 'Semakin Liar Perannya, Semakin di Luar Nalar....'
Dataiku, yang membantu perusahaan mengelola data, membangun aplikasi AI tanpa kode, dan menerapkan model pembelajaran mesin, ingin menelusuri bagaimana perasaan para CEO tentang pekerjaan mereka di era AI.
Perusahaan tersebut sangat tertarik untuk memahami bagaimana perusahaan nonteknis berpikir tentang AI karena mereka merupakan mayoritas dari pelanggannya.
Untuk itulah Daitaku membuat survei yang dilakukan oleh The Harris Poll terhadap lebih dari 500 CEO di Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan Perancis.
Hasilnya, disebutkan bahwa 74% CEO mengakui bahwa mereka bisa saja kehilangan pekerjaan dalam dua tahun jika gagal memberikan keuntungan yang berarti dengan menggunakan AI.
Artikel Terkait
Lowongan Kerja Jadi Associate Brand Manager di Lemonilo, Jangan Lupa Daftar!
Lowongan Kerja di Gerai yang Lagi Viral di Indonesia, Social Media & Digital Marketing Manager di CHAGEE Indonesia
Kenali 4 Gaya Komunikasi Pemimpin yang Mungkin Sering Kamu Temui, Hayo... Jangan Baper Dulu!
Tips Bicarakan soal Keuangan dengan Pasangan, Mulai dari Kencan Pertama hingga Setelah Menikah
Seperti Steve Jobs dan Tim Cook, Tanda Tangan dengan Nama Lengkap Adalah Ciri Orang yang Percaya Diri
Ini 13 Langkah yang Harus Kamu Lakukan Jika Kamu Alergi Tapi Tetap Ingin Pelihara Anabul
Didukung 500 Karyawan, Usaha Mebel Ukir Jepara Els Artsindo Sukses Dipasarkan ke 5 Benua