PejuangKantoran.com - Penggunaan AI di tempat kerja maupun untuk kebutuhan pribadi semakin meluas. Teknologi ini memang semakin memudahkan, tetapi sepertinya kita juga perlu mempertimbangkan etika dalam memakainya.
Anggapan ini muncul setelah menyimak 2025 Market Trend Report dari firma perekrutan Career Group Companies, di mana penggunaan AI dalam proses melamar pekerjaan meningkat pesat.
Sekitar 65% responden diketahui menggunakan AI saat melamar pekerjaan, dengan rincian sebagai berikut:
Baca Juga: Digarap Keroyokan 7 Negara, Perang Kota Mengangkat Kisah Cinta dengan Setting Jakarta Tahun 1946
19% menggunakannya untuk menulis resume
20% menggunakannya untuk surat lamaran
9% menggunakannya untuk foto profil
7% menggunakannya untuk latihan wawancara
5% menggunakannya untuk contoh pekerjaan
5% menggunakannya untuk bimbingan karier
"Saya pikir siapa pun yang merupakan pencari kerja yang cerdas saat ini... akan mengejutkan saya jika mereka tidak mempelajari [AI]," kata Jillian Lawrence, Senior Vice President di Career Group Companies Lawrence.
Namun ternyata, tidak semua orang menyukai fenomena penggunaan AI untuk melamar pekerjaan. Sebanyak 42% Manajer SDM menganggap penggunaan AI dalam proses lamaran kerja tidak etis, begitu menurut studi dari platform karier Zety tahun lalu.
Kekhawatiran tersebut meningkat ketika AI diterapkan pada penilaian keterampilan, di mana lebih dari dua pertiga manajer SDM agak khawatir atas penggunaannya. Jasmine Escalera, pakar karier di Zety, mengatakan kekhawatiran tersebut wajar.
"Jika kamu menggunakannya untuk meningkatkan keterampilan kamu atau memamerkan keterampilan yang sebenarnya tidak kamu miliki, itu yang jadi masalah," katanya. "Padahal, kamu mungkin tidak dapat melakukan pekerjaan itu."
Praktik terbaik bagi pelamar
Baca Juga: Transplantasi Karang dan Tegakan Lamun di Gili Matra Jadi Fokus Program BRI Menanam Grow and Green
Lawrence menyarankan agar pelamar selalu memeriksa ulang keakuratan informasi atau kalimat saat menggunakan AI. Pelamar juga harus meluangkan waktu untuk memastikan bahwa semua yang diproses oleh AI benar-benar mewakili siapa mereka.
Selain itu, seperti apa surat lamaran yang mereka inginkan, karena AI memberikan respons yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
"AI bisa berulang-ulang. Itu tidak selalu benar," katanya. "Apa pun yang tidak benar-benar jujur … akan terungkap kalau memang tidak benar."
Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan Jeremy Schifeling, penulis "Career Coach GPT," buku tentang penggunaan AI dalam proses kerja. Ia menyarankan pelamar untuk selalu meninjau hal-hal yang dihasilkan oleh AI.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Ajak Pendatang Mencari Peluang di Jakarta Usai Lebaran
Transfer dan Membayar Transaksi Belanja Pakai QRIS di Super Apps BRImo Jadi Pilihan Praktis
Begini Cara Mengukur dan Mengetahui Kecepatan Brisk Walking Kamu Secara Tepat
Cara Menolak Tugas Tambahan di Kantor Tanpa Merusak Hubungan dengan Rekan Kerja dan Atasan
Yeaaay... Image Generator ChatGPT yang Sudah Disempurnakan Sekarang Tersedia buat Tim Gratisan
Hayao Miyazaki, Sosok Jenius Di Balik Visual Khas Animasi Studio Ghibli yang Lagi Viral
Tips Sehat dan Bugar Saat Lebaran: Nikmati Momen Spesial Tanpa Khawatir Kesehatan