Karena Tidak Terukur, Kolaborasi di Tempat Kerja Jadi Lebih Sulit Dilakukan. Apa Solusinya?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 10 Juli 2025 | 10:07 WIB
Ilustrasi: Kolaborasi di tempat kerja banyak manfaatnya, tetapi mengapa sering tidak efektif pelaksanaannya? (Freepik/Tirachardz)
Ilustrasi: Kolaborasi di tempat kerja banyak manfaatnya, tetapi mengapa sering tidak efektif pelaksanaannya? (Freepik/Tirachardz)

Akibatnya, perusahaan tidak punya gambaran utuh mengenai bagaimana tim mereka benar-benar bekerja sama.

Belum lagi dengan tim yang semakin besar dan sistem kerja hybrid. Ini membuat pemimpin sulit mengetahui siapa yang bekerja dengan siapa dan di proyek apa.

Baca Juga: Konsisten Berikan Pengalaman Positif Nasabah, BRI Sabet Penghargaan Banking Service Excellence

Peran teknologi yang bisa sangat membantu

Saat ini ada alat analisis modern yang bisa membantu perusahaan melihat pola kolaborasi di tempat kerja.

Mulai dari siapa saja yang sering bekerja sama dengan siapa, bagaimana kekompakan tim, di mana muncul hambatan, bahkan apakah ada bagian tim yang terisolasi dari tim lainnya.

Bagi sebagian perusahaan besar, analisis seperti ini sudah menjadi standar. Terutama untuk mengatasi tantangan kolaborasi antara kantor pusat dan tim regional atau antar tim lintas fungsi.

Dengan data yang objektif, para pemimpin bisa mengambil keputusan berdasarkan fakta, bukan sekadar intuisi atau asumsi.

Baca Juga: Time Management Itu Nggak Gampang, Ini 7 Keterampilan Manajemen Waktu dan Organisasi yang Bikin Hidup Lebih Teratur

Di era kerja remote seperti sekarang, pendekatan ini semakin penting. Dengan data yang kuat, para pemimpin tidak lagi menyalahkan sistem kerja, tetapi mulai fokus pada bagian kolaborasi mana yang perlu diperbaiki.

Intinya, jika ingin membuat kolaborasi di tempat kerja benar-benar berhasil, pemimpin perlu mulai melihatnya dengan lebih jelas serta mulai mengandalkan bantuan teknologi, data, dan niat serius untuk berubah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes, Nutcache

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X