49% Pekerja Takut Ambil Cuti: Ada yang Gara-gara Takut Dipecat!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 23 Oktober 2025 | 11:15 WIB
Ilustrasi: Normalisasikan pengajuan cuti tanpa memberikan alasan apapun. Kamu berhak istirahat setelah lelah bekerja! (Freepik/DC Studio)
Ilustrasi: Normalisasikan pengajuan cuti tanpa memberikan alasan apapun. Kamu berhak istirahat setelah lelah bekerja! (Freepik/DC Studio)

PejuangKantoran.com - Meski perusahaan memberikan jatah cuti berbayar kepada karyawannya, ternyata banyak pekerja yang masih merasa ragu untuk benar-benar menggunakannya.

Survei terbaru dari LiveCareer menemukan bahwa lebih dari separuh pekerja di Amerika Serikat merasa cemas saat ingin mengambil semua cuti berbayar yang menjadi hak mereka.

Bahkan, sepertiga responden mengatakan mereka merasa ditekan untuk tidak menggunakan seluruh jatah cuti tersebut.

Namun, yang lebih mengejutkan, ada sekitar 9% pekerja mengaku perusahaan mereka secara aktif melarang mereka mengambil semua cuti. Padahal secara resmi, cuti adalah hak karyawan.

Ini menunjukkan bahwa budaya kerja dan sikap pimpinan seringkali lebih berpengaruh daripada kebijakan tertulis di kantor.

Baca Juga: Bukan Cuma Kerja dari Rumah, Ini Makna Sebenarnya dari Fleksibilitas Kerja yang Bikin Karyawan Happy

Beban kerja dan rasa takut jadi alasan utama

Dari survei yang dilakukan terhadap 1.003 pekerja pada 7 Mei 2025, hampir separuh responden (49%) mengatakan beban kerja yang menumpuk membuat mereka sulit mengambil cuti. Meskipun sebenarnya tidak dilarang.

Sementara itu, sebagian lainnya mengaku dilarang secara halus (6%) dan bahkan ada yang dilarang secara langsung (2%).

Ketika ditanya mengapa mereka ragu untuk mengambil cuti, alasannya beragam, yaitu:

- Takut pekerjaan menumpuk (19%)

- Takut ketinggalan informasi atau kehilangan kesempatan (19%)

- Takut dianggap tidak berkomitmen (12%)

- Takut dipecat atau digantikan (8%)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: USA Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X