“Saya jadi lebih percaya diri dan merasa lebih berdaya,” katanya.
Budaya yang mendukung, bukan sekadar pelatihan
Namun, pelatihan saja tidak cukup. Budaya perusahaan juga harus mendukung karyawan untuk tumbuh. García Osés menilai bahwa Garnica memberikan ruang bagi semua orang untuk bersuara dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Freya Hannah, rekan García Osés dari Kanada, juga merasakan hal serupa. Ia bercerita tentang atasannya, David Smith, yang selalu mendorongnya untuk berani menyampaikan ide tanpa rasa takut.
“Dulu saya sering bilang ‘maaf’ sebelum mengemukakan pendapat. Namun, bos saya bilang, ‘Kalau kamu punya ide, katakan dengan yakin dan jelaskan kenapa itu penting.’,” ujarnya.
Baca Juga: Pekerja Perempuan Sudah Lebih Aktif Negosiasi Gaji, tapi Mengapa Kesenjangan Upah Masih Terjadi?
Pesan sederhana itu membuat Hannah lebih percaya diri dan merasa didukung untuk menjadi dirinya sendiri di tempat kerja.
Intinya, yang dilakukan Garnica menunjukkan bahwa budaya inklusif tidak selalu harus datang dari target atau kuota.
Kadang, hal yang paling berdampak justru datang dari sikap sehari-hari, seperti menghargai kinerja, memberi ruang bicara yang sama, dan membangun kepercayaan diri pada setiap karyawan.
Itulah inklusi yang sebenarnya yang bukan soal angka, tetapi tentang rasa diterima dan diberdayakan. ***
Artikel Terkait
Apa Sebenarnya Toilet Gender Netral, yang Disebut Daniel Mananta Ada di Sekolah Internasional?
Kesenjangan Upah antara Laki-Laki dan Perempuan di Eropa Makin Besar, Posisi C-Suite Didominasi Kaum Pria
Bahayanya Jika Pimpinan Perusahaan Tidak Mengakui Ketidaksetaraan Gender di Tempat Kerja
Mengapa Dokter Kandungan Lebih Banyak yang Laki-Laki? Begini Penjelasan Ahlinya
Komnas Perempuan Buka Lowongan Kerja 2025, Minimal Lulusan SMA Bisa Daftar
Apa Kata Mendiang Steve Jobs Soal Keputusan Karier untuk Keluar, Berubah Arah, atau Bertahan di Pekerjaan Saat Ini?