Berbagi Cerita dan Perasaan di Kantor Tidak Masalah, tapi Jangan Kebablasan. Ini Caranya!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 25 November 2025 | 14:35 WIB
Bercerita masalah pribadi di kantor itu boleh, tapi batasi untuk hal-hal tertentu dan perhatikan lawan bicaramu. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Bercerita masalah pribadi di kantor itu boleh, tapi batasi untuk hal-hal tertentu dan perhatikan lawan bicaramu. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Pernah ikut rapat kantor yang tiba-tiba berubah jadi sesi curhat panjang soal kehidupan pribadi? Ini mungkin membuat kamu bertanya-tanya, seberapa banyak kamu bisa cerita tentang diri sendiri di tempat kerja.

Menyeimbangkan apa yang perlu dan tidak perlu kamu bagikan tentang kehidupan pribadi di tempat kerja memang tricky. Sedikit cerita bisa membuat hubungan lebih hangat dan membangun kepercayaan. Namun, kalau kebanyakan, malah bisa jadi bumerang untuk kamu.

Kenalan dengan istilah self-disclosure

Self-disclosure atau pengungkapan diri adalah saat kamu berbagi pengalaman, pikiran, atau perasaan pribadi kepada rekan kerja.

Misalnya, saat kamu bercerita soal rencana weekend depan, curhat singkat saat sedang overwhelmed, atau berbagi pengalaman yang relevan sama pekerjaan.

Tujuannya bukan drama, tetapi membuat hubungan di kantor jadi lebih manusiawi dan tidak sekadar "datang–kerja–pulang".

Ini penting dilakukan karena hubungan yang lebih dekat di kantor biasanya membuat kerja lebih enak. Ini membuat komunikasi lebih lancar, kolaborasi lebih kuat, dan suasana kerja lebih suportif.

Berbagi hal pribadi yang relevan juga membuat kamu terlihat autentik, bukan sekadar “versi formal” dari diri sendiri. Namun, tetap wajib diingat bahwa tidak semua hal pribadi cocok dibicarakan di kantor.

Baca Juga: Jadilah Pendengar yang Baik dan Tak Judgemental Kalau Teman Kamu Curhat Soal Kesehatan Mentalnya!

Self-disclosure vs oversharing, bedanya apa?

Contoh oversharing atau kebanyakan berbagi adalah:

  • Curhat panjang soal perceraian di rapat proyek;
  • Menceritakan detail medis yang sebenarnya cukup dijelaskan sebagai “ada urusan kesehatan”;
  • Mengeluh soal rekan kerja atau bos ke orang yang tidak punya wewenang membantu.

Sementara contoh self-disclosure yang sehat adalah:

  • Cerita singkat soal kegiatan weekend yang lalu;
  • Bilang kamu ambil cuti untuk jaga kesehatan mental;
  • Berbagi tantangan yang kamu atasi dan relevan dengan pekerjaan.

Sederhananya, kalau informasi itu membuat orang lain tidak nyaman, terlalu detail, atau tidak relevan dengan pekerjaan, itu mungkin oversharing yang tidak perlu diceritakan.

Cara menemukan keseimbangan bercerita yang anti-TMI

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: The Muse

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X