PejuangKantoran.com - Salah satu hal penting yang harus kamu siapkan saat melamar pekerjaan adalah riset mengenai gaji. Nah, di tengah semakin masifnya penggunaan AI di dunia kerja, cara karyawan melakukan riset gaji juga mulai berubah.
Menurut laporan terbaru dari Payscale, sekarang AI menjadi salah satu rujukan populer dalam riset gaji. Namun, para pakar SDM mengingatkan agar penggunaannya tetap dilakukan dengan cermat dan tidak asal percaya.
Berdasarkan survei Payscale terhadap 1.000 pekerja di AS serta 500 pemimpin bisnis dan tenaga HR, sebanyak 70% pemberi kerja melihat semakin banyak karyawan yang menggunakan tools AI seperti ChatGPT untuk memberikan info soal besaran gaji.
Baca Juga: Pingin Pindah ke Luar Negeri? 6 Negara Ini Punya Proses Kewarganegaraan Paling Mudah
Fenomena ini bukan hal asing bagi Jessica Pillow, Global Head of Total Rewards di platform HR Deel. Ia mengatakan pertanyaan soal penggunaan AI untuk riset gaji hampir selalu muncul dalam pekerjaannya.
Jessica sendiri mengaku pernah mencobanya sendiri. Saat pertama kali menggunakan ChatGPT, hal pertama yang ia tanyakan adalah gaji rata-rata di industrinya. “Semua orang melakukan hal ini,” ujarnya.
Menurutnya, AI memang bisa menjadi alat yang berguna, terutama bagi profesional muda, untuk menentukan titik awal ekspektasi gaji.
Namun, Jessica mengingatkan agar informasi gaji dari AI tidak dianggap sebagai kebenaran mutlak. Tanpa verifikasi yang memadai, data tersebut bisa menyesatkan.
Laporan Payscale mencatat bahwa 63% pemberi kerja melihat ada peningkatan karyawan yang mendasarkan permintaan gaji pada data yang tidak akurat atau belum diverifikasi.
“Akibatnya, ekspektasi karyawan bisa jadi tidak sejalan dengan realitas perusahaan. Itu bisa membuat mereka kecewa,” kata Jessica.
Baca Juga: Kenapa Sih, Pemerintah Mendorong Karyawan untuk Work from Mall selama Libur Nataru 2025?
Kesalahan paling umum saat menggunakan AI untuk riset gaji adalah menggunakan prompt yang terlalu umum. “Kalau prompt yang kamu pakai tidak betul-betul spesifik, kemungkinan kamu akan mendapat jawaban yang tidak sesuai kenyataan,” tambahnya.
Sebagai contoh, ketimbang bertanya “Berapa gaji data analyst?”, Jessica menyarankan agar prompt mencakup lokasi, ukuran perusahaan, industri, level pengalaman, hingga komponen tunjangan dan bonus.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa setiap perusahaan punya pendekatan kompensasi yang berbeda. Perbedaan lokasi kantor, misalnya antara kawasan segitiga emas dan daerah pinggiran, bisa berdampak besar pada gaji.
Karena itu, hasil dari AI sebaiknya selalu dikroscek dengan sumber lain seperti Glassdoor atau LinkedIn. Jawaban dari Ai bukan hasil final, begitu menurut Jessica. “Kamu masih punya PR untuk mengeceknya lagi,” tukasnya.
Artikel Terkait
Wajib Tahu: Upah Minimum di Perusahaan Hanya untuk Karyawan dengan Masa Kerja Tertentu
Hati-hati, Memaki Teman dengan Sebutan Binatang Bisa Dipidana, Ini Penjelasannya!
Lowongan Kerja Internasional di Jakarta, The Japan Foundation Buka Posisi Junior Administration Officer
Pemerintah Buka Seleksi Calon Anggota Komisi Informasi Pusat Periode 2026–2030
Di Jerman, Mabuk dan Hangover Bisa Jadi Alasan Sakit yang Sah dan Nggak Masuk Kantor
Ada Aja Gebrakannya: Buronan Polisi Ditangkap saat Menyamar Jadi Patung di Kandang Natal
3 Ide Sajian Minum Non-Alkohol untuk Bersulang dan Merayakan Malam Pergantian Tahun