Perlukah Chief Productivity Officer, Jabatan Baru yang Menggabungkan HR dan IT dalam Manajemen HR?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 9 Januari 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi: Chief Productivity Officer adalah jabatan baru dalam manajemen HR yang menggabungkan HR dan IT. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Chief Productivity Officer adalah jabatan baru dalam manajemen HR yang menggabungkan HR dan IT. (Freepik/Pressfoto)

Neil Morrison, Global Chief People Officer di Staffbase, juga mengingatkan agar organisasi tidak buru-buru menambah jabatan baru (hybrid role) kalau Chief Human Resources Officer (CHRO) dan Chief Information Officer (CIO) komunikasinya sudah sejalan.

"Jangan sampai adanya sedikit celah fokus membuat kita langsung merasa butuh posisi baru,” katanya.

Menggabungkan dua fungsi ini berisiko membuat kebijakan jadi berat sebelah ke salah satu sisi. Akibatnya, bisa muncul blind spot atau bagian yang terabaikan, entah itu di strategi pengelolaan karyawan maupun di sisi dukungan teknisnya.

Baca Juga: Pengembang Properti PT Hatten Bali Tbk Membuka Lowongan Kerja Brand Activation

Menariknya, ada pula yang menilai isu ini salah bingkai sejak awal. Gia Lacqua, CEO marketing agency network Elivate, berpendapat perusahaan bukan kekurangan produktivitas, melainkan kapasitas.

“Orang itu bukan tenggelam karena tidak cukup produktif; tapi tenggelam karena kelebihan beban,” tukasnya.

Jika Chief Productivity Officer hanya menuntut output lebih besar, peran ini akan gagal. Namun jika fokusnya mengurangi friksi kerja, maka ini bisa menjadi era baru kepemimpinan yang lebih manusiawi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Worklife

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X