Neil Morrison, Global Chief People Officer di Staffbase, juga mengingatkan agar organisasi tidak buru-buru menambah jabatan baru (hybrid role) kalau Chief Human Resources Officer (CHRO) dan Chief Information Officer (CIO) komunikasinya sudah sejalan.
"Jangan sampai adanya sedikit celah fokus membuat kita langsung merasa butuh posisi baru,” katanya.
Menggabungkan dua fungsi ini berisiko membuat kebijakan jadi berat sebelah ke salah satu sisi. Akibatnya, bisa muncul blind spot atau bagian yang terabaikan, entah itu di strategi pengelolaan karyawan maupun di sisi dukungan teknisnya.
Baca Juga: Pengembang Properti PT Hatten Bali Tbk Membuka Lowongan Kerja Brand Activation
Menariknya, ada pula yang menilai isu ini salah bingkai sejak awal. Gia Lacqua, CEO marketing agency network Elivate, berpendapat perusahaan bukan kekurangan produktivitas, melainkan kapasitas.
“Orang itu bukan tenggelam karena tidak cukup produktif; tapi tenggelam karena kelebihan beban,” tukasnya.
Jika Chief Productivity Officer hanya menuntut output lebih besar, peran ini akan gagal. Namun jika fokusnya mengurangi friksi kerja, maka ini bisa menjadi era baru kepemimpinan yang lebih manusiawi.
Artikel Terkait
Pekerja Kontrak dengan Gaji Maksimal Rp10 Juta, Apakah Bebas Pajak di 2026?
PIM 5 Segera Dibuka, Tapi Mana Pondok Indah Mall 4?
Konflik Politik Makin Tegang dengan Amerika Serikat, Toyota Minta Karyawannya di Venezuela WFH Sementara
Ikut Nonton Show 'Mens Rea', Ahok: 'Waduh Gila Deh, Pandji Pragiwaksono Nekad Banget!'
Ketika Ada yang Sakit Namun tetap Hadir di Kantor atau Online, Waspada Karena Presenteeism Ini Berdampak Buruk!
IHSG Naik, Tapi Belum Merata: Ini Peluang Saham Fundamental di 2026
Coca-Cola Umumkan PHK 75 Pegawai di Atlanta, Berlaku Februari 2026