Mengapa Kemampuan Beradaptasi Kini Lebih Diutamakan untuk Memimpin ketimbang Resiliensi?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 2 Maret 2026 | 16:20 WIB
Ilustrasi: Bukan resiliensi, melainkan kemampuan beradaptasi yang lebih diutamakan untuk mampu memimpin orang lain. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Bukan resiliensi, melainkan kemampuan beradaptasi yang lebih diutamakan untuk mampu memimpin orang lain. (Freepik/Pressfoto)

Mereka memangkas birokrasi dan terus-menerus mendorong eksperimen. Mereka tidak hanya merespons gangguan, tapi juga membangun sistem yang memang siap untuk berubah kapan saja.

Lalu, bagaimana cara kita menemukan orang-orang yang punya kemampuan beradaptasi ini?

Mike menantang cara lama kita melihat CV. Dulu, orang yang sering pindah-pindah kerja dianggap kutu loncat atau tidak loyal. Sekarang, Mike melihatnya berbeda.

Baca Juga: Bloomingdale's Bajak Karyawan Saks Fifth Avenue dan Bergdorf Goodman dengan Paket Kompensasi

Bisa jadi orang tersebut punya kemampuan belajar yang sangat cepat, haus akan tantangan, dan mudah bosan kalau tidak ada masalah baru untuk dipecahkan.

Selain itu, cari orang yang punya minat beragam, misalnya lulusan teknik yang juga suka teater, atau mereka yang pernah tinggal di luar negeri dan mampu berbicara banyak bahasa.

"Kita mencari orang yang bisa melihat masalah dari berbagai sudut pandang berbeda," kata Mike. "Orang-orang yang bermigrasi saat masih muda, misalnya, mereka terbiasa melihat satu masalah yang sama dari perspektif yang berbeda."

Untungnya, adaptabilitas itu bisa dilatih. Mike menyarankan perusahaan untuk berhenti memposting deskripsi pekerjaan yang kaku dan mulai memposting tantangan.

Secara personal, kita bisa mulai dari hal kecil. Cobalah sikat gigi pakai tangan yang berbeda. Kalau sedang rapat mingguan, jangan duduk di kursi yang itu-itu saja. Paksa diri untuk merasakan ketidaknyamanan dengan ketidakpastian.

Baca Juga: Buat Karyawan Muda, Jadi Individual Contributor Lebih Prestise ketimbang Jadi Manajer

Satu hal lagi yang tidak bisa dihindari: AI. Bagi Mike, menggunakan AI bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Ini adalah uji kemampuan beradaptasi yang terbesar bagi semua profesional saat ini.

Dunia tidak akan kembali ke kondisi normal yang lama. Sekarang pilihannya cuma dua: kita terus merunduk menahan hantaman ombak sampai kelelahan, atau kita belajar berselancar dan menikmati arusnya.

Karena manusia memang dirancang untuk belajar dan berkembang, rasanya nggak ada alasan untuk takut berubah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X