Mereka memangkas birokrasi dan terus-menerus mendorong eksperimen. Mereka tidak hanya merespons gangguan, tapi juga membangun sistem yang memang siap untuk berubah kapan saja.
Lalu, bagaimana cara kita menemukan orang-orang yang punya kemampuan beradaptasi ini?
Mike menantang cara lama kita melihat CV. Dulu, orang yang sering pindah-pindah kerja dianggap kutu loncat atau tidak loyal. Sekarang, Mike melihatnya berbeda.
Baca Juga: Bloomingdale's Bajak Karyawan Saks Fifth Avenue dan Bergdorf Goodman dengan Paket Kompensasi
Bisa jadi orang tersebut punya kemampuan belajar yang sangat cepat, haus akan tantangan, dan mudah bosan kalau tidak ada masalah baru untuk dipecahkan.
Selain itu, cari orang yang punya minat beragam, misalnya lulusan teknik yang juga suka teater, atau mereka yang pernah tinggal di luar negeri dan mampu berbicara banyak bahasa.
"Kita mencari orang yang bisa melihat masalah dari berbagai sudut pandang berbeda," kata Mike. "Orang-orang yang bermigrasi saat masih muda, misalnya, mereka terbiasa melihat satu masalah yang sama dari perspektif yang berbeda."
Untungnya, adaptabilitas itu bisa dilatih. Mike menyarankan perusahaan untuk berhenti memposting deskripsi pekerjaan yang kaku dan mulai memposting tantangan.
Secara personal, kita bisa mulai dari hal kecil. Cobalah sikat gigi pakai tangan yang berbeda. Kalau sedang rapat mingguan, jangan duduk di kursi yang itu-itu saja. Paksa diri untuk merasakan ketidaknyamanan dengan ketidakpastian.
Baca Juga: Buat Karyawan Muda, Jadi Individual Contributor Lebih Prestise ketimbang Jadi Manajer
Satu hal lagi yang tidak bisa dihindari: AI. Bagi Mike, menggunakan AI bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Ini adalah uji kemampuan beradaptasi yang terbesar bagi semua profesional saat ini.
Dunia tidak akan kembali ke kondisi normal yang lama. Sekarang pilihannya cuma dua: kita terus merunduk menahan hantaman ombak sampai kelelahan, atau kita belajar berselancar dan menikmati arusnya.
Karena manusia memang dirancang untuk belajar dan berkembang, rasanya nggak ada alasan untuk takut berubah.
Artikel Terkait
Kalau di Belanda, Sakit Bukan Alasan Potong Gaji, Bahkan Bisa Sampai 2 Tahun
Indonesia di Peringkat Menengah ASEAN: Gambaran Rata-Rata Gaji 2025
Bukan Kafe atau Co-Working Space, Ini Alternatif Tempat Kerja Favorit Para Digital Nomad Saat Traveling
Kemnaker Pastikan Pengemudi Ojol Bakal Kembali Terima Bonus Hari Raya di Lebaran 2026
Lowongan Digital Marketing Staff dari Sido Muncul Buat yang Punya Pengalaman 2 Tahun di Bidang Ini
Taman Safari Indonesia Membuka Lowongan Posisi Brand Activasion dan Public Relations untuk Ditempatkan di Batang Jawa tengah
Memahami Pentingnya Undangan atau Ajakan Klien dan Cara Profesional Menolaknya