"Gaji memang tetap jadi prioritas, tapi di tengah tekanan biaya hidup yang tinggi seperti sekarang, benefit sering kali jadi penentu akhir," ujarnya.
Ia menekankan bahwa fasilitas seperti dukungan kesehatan mental atau skema bike-for-work bukan cuma pajangan, tapi punya dampak nyata bagi kesehatan finansial dan prospek karier jangka panjang karyawan.
Masalahnya, ada ketimpangan persepsi antara bos dan anak buah. Sekitar 39% pemberi kerja merasa sudah menjabarkan fasilitas kantor dengan sangat jelas.
Tapi di sisi lain, banyak kandidat yang justru mundur dari proses rekrutmen karena merasa tunjangan yang ditawarkan tidak sesuai ekspektasi. Bahkan, 36% perusahaan mencatat kenaikan jumlah pelamar yang kabur dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga: In This Economy, Nggak Cuma Cari Kerja yang Susah. Cari Karyawan Baru Juga Ribet Banget!
Sekitar 23% perusahaan sebenarnya sudah berusaha menambah benefit baru demi menarik minat talenta-talenta berbakat. Namun, usaha itu bakal sia-sia kalau cara komunikasinya masih berantakan.
Nah, di sini kita bisa menarik kesimpulan, bahwa PR terbesar bagi perusahaan adalah menyosialisasikan fasilitas kantor dan benefitnya tersebut. Perusahaan tidak boleh membiarkan Employee Assistant Program mereka sia-sia, kan?
Menjelaskan value dari setiap benefit secara gamblang bisa meyakinkan calon karyawan buat melamar, atau membuat karyawan lama mengurungkan niat untuk resign.
Artikel Terkait
Bukan Hanya Terapkan WFH, Para Ekonom Ajukan Sejumlah Saran untuk Menghemat Pemakaian BBM
Apa Isi Goodie Bag Academy Awards Senilai Rp5,5 Miliar yang Dibagikan untuk Para Nominee?
Pariwisata Indonesia Terdampak Konflik di Timur Tengah, Manfaatkan Libur Lebaran dan Revenge Travel
Diam-Diam Mengintai: Pola Makan yang Bisa Merusak Ginjal di Usia Muda
Pemerintah Kaji WFH untuk Hemat BBM, Ini Kata Bahlil
Catat! Jadwal Operasional Bank Selama Libur Lebaran 2026
5 Ciri Seorang yang Punya Keterampilan Managing Up yang Wajib Diketahui Atasan