Marah Ternyata Bisa Jadi “Bahan Bakar” Produktivitas, Asal Tahu Cara Mengelolanya

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 28 April 2026 | 08:05 WIB
Ilustrasi: Jangan merespons pelanggan yang marah dengan bahasa yang defensif. (Unsplash/Johann Walter Bantz)
Ilustrasi: Jangan merespons pelanggan yang marah dengan bahasa yang defensif. (Unsplash/Johann Walter Bantz)

PejuangKantoran.com - Selama ini, marah sering dianggap sebagai emosi negatif yang harus dihindari. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kemarahan tidak selalu berdampak buruk. Dalam konteks tertentu, emosi ini justru bisa menjadi pendorong kuat untuk meningkatkan fokus, motivasi, hingga performa kerja.

Salah satu studi dari Heather C. Lench bersama timnya di Texas A&M University menemukan bahwa kemarahan dapat membantu seseorang lebih fokus dalam mengejar tujuan. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: General menunjukkan bahwa individu yang berada dalam kondisi marah cenderung lebih gigih dan mampu menyelesaikan tugas sulit dengan performa yang lebih baik dibandingkan mereka yang berada dalam kondisi emosi netral.

Kenapa Marah Bisa Bikin Lebih Fokus?

Secara psikologis, kemarahan termasuk emosi yang bersifat approach-oriented, artinya mendorong seseorang untuk bertindak, bukan menghindar. Ketika marah, tubuh dan otak menjadi lebih “siaga” energi meningkat, perhatian lebih terarah, dan dorongan untuk menyelesaikan masalah jadi lebih kuat.

Dalam studi tersebut, partisipan yang merasa marah menunjukkan tingkat ketekunan lebih tinggi saat menghadapi tantangan. Mereka cenderung tidak mudah menyerah dan lebih terdorong untuk mencapai hasil.

Menariknya, manfaat kemarahan tidak berhenti pada produktivitas. Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Experimental Social Psychology pada 2010 menemukan bahwa emosi marah juga dapat meningkatkan kreativitas, terutama pada individu dengan motivasi tinggi.

Dalam kondisi ini, otak menjadi lebih aktif dalam mencari solusi alternatif dan menghasilkan ide-ide baru. Kemarahan memicu proses berpikir yang lebih eksploratif, sehingga seseorang lebih terbuka terhadap pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan masalah.

Meski memiliki sisi positif, kemarahan tetap perlu dikelola dengan baik. Emosi ini bisa menjadi produktif jika diarahkan dengan tepat, tetapi dapat berdampak sebaliknya jika diekspresikan secara berlebihan atau tidak terkontrol.

Alih-alih ditekan, kemarahan justru bisa dimanfaatkan sebagai energi untuk menyelesaikan pekerjaan, mencari solusi, atau mendorong diri mencapai target. Kuncinya ada pada kesadaran emosional, mengetahui kapan harus menggunakan energi tersebut, dan kapan harus meredakannya.

Temuan ini membuka perspektif baru bahwa tidak semua emosi negatif harus dihindari. Dalam dosis yang tepat, kemarahan bisa menjadi “bahan bakar” yang membantu kita bekerja lebih fokus, lebih cepat, dan bahkan lebih kreatif.

Selama bisa dikendalikan, mungkin marah bukan sesuatu yang harus ditakuti—
melainkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan dengan bijak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X