PejuangKantoran.com - Merasa pekerjaan tidak pernah selesai meski sudah bekerja seharian menjadi masalah yang cukup sering dialami banyak orang. Tumpukan email, meeting yang terus bertambah, hingga distraksi digital membuat produktivitas terasa semakin sulit dijaga.
Seorang pakar produktivitas membagikan sejumlah kebiasaan sederhana yang dinilai dapat membantu seseorang keluar dari rasa “selalu tertinggal” dalam pekerjaan. Menurutnya, masalah produktivitas sering kali bukan soal kurang bekerja keras, melainkan cara mengatur energi dan prioritas sehari-hari.
Jangan mulai hari dengan email
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah langsung membuka email atau chat pekerjaan begitu hari dimulai. Kebiasaan ini membuat fokus langsung terpecah sebelum seseorang menyelesaikan prioritas utamanya.
Alih-alih reaktif terhadap pesan masuk, para ahli menyarankan untuk memulai hari dengan satu pekerjaan penting terlebih dahulu sebelum berpindah ke tugas administratif.
Baca Juga: Nggak Cuma Rekrutmen, Tim HR Sekarang Harus Mampu Analisis Data dan Performa Keuangan
Buat daftar tugas yang realistis
Banyak orang membuat to-do list terlalu panjang sehingga justru terasa melelahkan sejak awal. Menurut pakar produktivitas, daftar tugas yang efektif sebaiknya hanya berisi beberapa prioritas utama yang benar-benar harus selesai hari itu.
Dengan target yang lebih realistis, seseorang akan lebih mudah menjaga fokus sekaligus mengurangi rasa frustrasi saat pekerjaan belum seluruhnya selesai.
Kurangi multitasking
Meski sering dianggap efisien, multitasking justru membuat otak bekerja lebih berat dan menurunkan kualitas fokus. Terlalu sering berpindah tugas juga membuat seseorang lebih cepat lelah secara mental.
Karena itu, bekerja dalam blok waktu khusus untuk satu tugas dinilai lebih efektif dibanding mencoba mengerjakan banyak hal sekaligus.
Baca Juga: Bukan Cuma Dark Chocolate, Ini 8 Makanan yang Bisa Bantu Redakan Stres
Sisakan waktu untuk “buffer”
Jadwal yang terlalu penuh tanpa jeda membuat pekerjaan mudah berantakan ketika muncul hal tak terduga. Pakar produktivitas menyarankan agar seseorang menyisakan waktu kosong di sela pekerjaan sebagai buffer untuk mengantisipasi perubahan mendadak.
Strategi ini membantu menjaga ritme kerja tetap stabil tanpa membuat hari terasa terlalu padat.
Produktif bukan berarti selalu sibuk
Menurut para ahli, produktivitas tidak selalu identik dengan kesibukan tanpa henti. Fokus utama justru terletak pada kemampuan menyelesaikan pekerjaan penting dengan energi dan perhatian yang lebih terarah.
Karena itu, membangun kebiasaan kecil yang konsisten sering kali lebih efektif dibanding memaksakan diri bekerja terus-menerus tanpa jeda.
Artikel Selanjutnya
6 Bentuk Trust yang Lazim Diterapkan di Kantor. Perhatikan Cara Membangunnya!
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
6 Bentuk Trust yang Lazim Diterapkan di Kantor. Perhatikan Cara Membangunnya!
CEO Sebut Work-Life Balance sebagai “Red Flag”, Benarkah?
Cara Menjawab Pertanyaan 'Kapan Bisa Mulai Bekerja' saat Wawancara biar Nggak Dikira Desperate
Waktu Terbaik untuk Mengambil Keputusan Penting, Hindari Melakukannya Saat Otak Sudah Lelah
Belajar dari Kesuksesan CEO Apple Tim Cook dan CEO Microsoft Satya Nadella, Dari Project Manager Menjadi CEO!
Contoh Jawaban dalam Bahasa Inggris ketika Ditanya, 'Kapan Bisa Mulai Bekerja?' usai Wawancara Kerja
7 Alasan Mengapa Timeline Itu Penting dalam Sebuah Proyek yang Wajib Diketahui oleh Project Manager
5 Tanda Atasan Kamu Sebenarnya Butuh Pelatihan Leadership untuk Handle Anak Buahnya
Nggak Cuma Rekrutmen, Tim HR Sekarang Harus Mampu Analisis Data dan Performa Keuangan
Nggak Apa-apa Banget Nggak Jadi Bos, Karyawan Gen Z Lebih Pilih Punya Banyak Side Hustle