Karena perbedaan ini tidak diakui, manajer terjebak di tengah-tengah. Mereka harus berjuang sendirian, yang akhirnya membuat mereka kelelahan atau burnout.
Bagaimana solusinya?
Sekarang banyak orang berharap pada AI untuk memperbaiki semangat kerja. AI memang canggih, tapi teknologi tidak akan menggantikan peran seorang manajer. Kita tetap butuh manusia yang mampu mengelola lingkungan kerjanya dengan efektif.
Langkah pertama yang paling penting bukan menambah tools atau aplikasi baru. Perusahaan harus mulai membangun struktur yang mendukung manajer, bukan justru menghambat mereka.
Sudah waktunya perusahaan berhenti menuntut manajer bekerja dalam sistem yang nggak masuk akal. Kalau mereka mau keterlibatan karyawan, kita juga harus memastikan manajer mendapat dukungan yang sama.
Pada akhirnya, tim yang hebat selalu lahir dari pemimpin yang juga merasa dihargai dan didukung dalam pekerjaannya.
Artikel Terkait
Hanung Bramantyo Terapkan Sistem Kerja yang Ramah Anak di Lokasi Syuting 'Children of Heaven'
Gojek Ubah Skema Bagi Hasil: Driver Terima Penghasilan 92%, Penumpang Tetap Bayar Sama
Stres akibat Belum Dapat Pekerjaan Baru Bikin Para Pencari Kerja Terjebak 'Doomjobbing'
Taspen Pastikan Gaji ke-13 Pensiunan Cair Mulai 2 Juni 2026 Lewat 46 Mitra Bayar
KAI Mulai Bangun Apartemen Terintegrasi di Stasiun Manggarai, Harga Mulai Rp500 Jutaan
Kenapa Disebut “Tiket Pulang Pergi”, Bukan “Pergi Pulang”? Ini Jawabnya
Putri Thailand Alami Krisis Kesehatan Baru Setelah Tiga Tahun Koma