PejuangKantoran.com - Besaran gaji bukan lagi satu-satunya faktor yang dipertimbangkan pekerja ketika memilih tempat bekerja. Semakin banyak karyawan kini menilai lingkungan kerja yang sehat, terbuka, dan mendukung kesejahteraan mental sebagai bagian penting dalam membangun karier jangka panjang.
Hal tersebut terlihat dalam riset terbaru British Standards Institution (BSI) yang menunjukkan budaya saling percaya di tempat kerja memiliki dampak langsung terhadap produktivitas sekaligus loyalitas karyawan.
Penelitian yang dilakukan bersama Centre for Economics and Business Research (CEBR) menemukan pekerja yang merasa nyaman membicarakan kondisi kesehatan mereka cenderung lebih produktif dan memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengundurkan diri.
Sebaliknya, ketika perusahaan belum menyediakan ruang yang aman bagi karyawan untuk menyampaikan tantangan kesehatan fisik maupun mental, risiko turnover meningkat.
Baca Juga: Naik Gaji Tapi Kok Nggak Terasa Perubahannya? Ini yang Lagi Terjadi di Accenture dan Deloitte
Secara global, hanya 22 persen pekerja yang pernah mengalami masalah kesehatan mental merasa percaya diri untuk membicarakannya kepada atasan. Sementara hanya sekitar 20 persen yang merasa nyaman menyampaikannya kepada divisi sumber daya manusia (HR).
Yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 57 persen responden mengaku kondisi kesehatan mental yang buruk pernah memengaruhi perkembangan karier mereka.
Menurut Global Head of Human and Social Sustainability BSI, Kate Field, setiap orang dapat mengalami masa ketika kondisi fisik maupun mental tidak berada dalam performa terbaik. Pada situasi tersebut, dukungan sederhana dari perusahaan dapat membantu pekerja tetap produktif sekaligus mempercepat proses pemulihan.
Baca Juga: Bahagia di Tempat Kerja, Tapi Burnout? Ini Paradoks yang Dialami Banyak Pekerja Indonesia
Di Indonesia, isu ini juga mulai mendapat perhatian. Pemerintah melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 4 Tahun 2026 mulai memasukkan risiko psikososial sebagai bagian dari sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), sehingga perlindungan pekerja tidak lagi hanya berfokus pada keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.
BSI menilai perusahaan dapat mulai membangun budaya tersebut melalui penerapan standar internasional seperti ISO 45003 yang memberikan panduan dalam mengelola risiko psikososial di tempat kerja.
Di tengah persaingan mencari dan mempertahankan talenta, lingkungan kerja yang sehat kini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan. Bagi banyak pekerja, budaya perusahaan yang peduli terhadap kesejahteraan karyawan menjadi nilai yang sama pentingnya dengan jenjang karier maupun kompensasi.
Artikel Terkait
Orang yang Benar-Benar Bahagia Punya 3 Kebiasaan Ini Saat Hari Senin
Pikiran Lagi Mentok? Jangan Dipaksa, Ide Kreatif Justru Sering Muncul kalau Kita Lagi Santai
Mengapa Warren Buffett Menyebutkan Bahwa Integritas Penting? Berikut Cara Menumbuhkannya!
Membangun Komunitas Itu Nggak Bisa Instan, tapi Banyak Caranya. Salah Satunya, Manfaatkan UGC!
4 Kebiasaan Pagi yang Sering Dilakukan Orang Sukses, Worth To Try!
Burnout Bukan Lagi Masalah Pribadi, Tapi Ancaman Produktivitas Perusahaan
Bahagia di Tempat Kerja, Tapi Burnout? Ini Paradoks yang Dialami Banyak Pekerja Indonesia
10 Values Personal yang Dianggap Penting dalam Dunia Kerja yang Wajib Kamu Pahami dan Terapkan!
Naik Gaji Tapi Kok Nggak Terasa Perubahannya? Ini yang Lagi Terjadi di Accenture dan Deloitte
Mengenal Competency-Based Interviews, Fresh Graduate Wajib Tahu buat Persiapan Wawancara Kerja