kubikel

Pekerjaan Jadi Makin Mudah, Minta Bantuan AI untuk Bantu Kerjaan HRD dan Finance

Kamis, 16 November 2023 | 09:00 WIB
Ini beberapa aplikasi AI yang bisa bantu pekerjaan (pixabay.com/JESHOOTS-com)
  1. Penganggaran dan perencanaan keuangan

Karyawan adalah aset yang paling penting bagi perusahaan. Artinya, mereka adalah salah satu pengeluaran yang paling mahal.

Sangat penting bagi tim SDM dan keuangan untuk bekerja sama dalam menyeimbangkan perekrutan, gaji, dan tunjangan karyawan dengan profitabilitas bisnis yang berkelanjutan.

Baca Juga: 3 Tips Nonton Konser Coldplay Biar Aman dan Nyaman Tak Berdesakan

Seiring meningkatnya biaya rekrutmen, penganggaran dan perencanaan keuangan harus menjadi upaya bersama sejak hari pertama perekrutan terjadi.

Dengan menggunakan software perekrutan, proses perekrutan untuk memenuhi tujuan SDM dan keuangan dapat dioptimalkan.

Hal ini membuat pengalaman kandidat menjadi lebih baik, mempercepat proses perekrutan, dan mendapatkan talenta terbaik di tempat yang tepat. Dengan demikian, HR dapat menurunkan biaya per perekrutan.

Gaji dan tunjangan juga merupakan hal yang sering diperdebatkan. Saat ini, tunjangan bisa membebani perusahaan sebesar 32,9% dari total kompensasi karyawan.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Sabet Piala Citra sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Budi Pekerti

Tim HR yang menawarkan tunjangan berlebihan, seperti penggantian biaya pendidikan atau bonus uang tunai, tanpa penganggaran dan perencanaan keuangan yang komprehensif dapat membuat mereka berada dalam masalah.

Namun, software akuntansi yang didukung AI dapat menyatukan pekerjaan HRD dan finance ini.

Berkat fitur-fitur seperti pelaporan keuangan yang terperinci dan visualisasi arus kas, keduanya dapat berkolaborasi untuk membuat keputusan perekrutan, gaji, dan tunjangan yang tepat.

  1. Deteksi dan pencegahan penipuan

Setiap departemen harus mampu mempertahankan diri dari upaya penipuan.

Namun, karena tim SDM dan keuangan merupakan pengguna istimewa dengan akses ke sistem yang aman dan data sensitif, ancaman dari orang dalam menjadi risiko yang lebih besar.

Faktanya, 60% perusahaan telah mengalami setidaknya satu kali serangan orang dalam pada tahun lalu, menurut studi Gurucul.

Tak peduli itu terjadi karena kejahatan atau kelalaian, ancaman orang dalam menjadi masalah yang mendesak.

Halaman:

Tags

Terkini