PejuangKantoran.com - Mungkin maksudnya bukan benar-benar berbohong di CV mengenai pengalaman kerja atau keterampilannya. Namun, saat ini banyak pelamar yang “melebih-lebihkan” kemampuan yang dimiliki saat menulis CV atau surat lamaran.
Faktanya, 7 dari 10 pelamar berbohong di CV untuk menampilkan versi diri mereka yang lebih baik daripada pelamar lainnya.
Apalagi di era teknologi yang semakin canggih seperti saat ini—dengan munculnya alat bantu generatif AI, pelamar cenderung berbohong di CV lebih mudah dari sebelumnya.
Baca Juga: Ingin Melakukan Career Switch dan Mencoba Bidang Pekerjaan Lain? Pikirkan Dulu Hal Ini!
Akibat rekruter yang ingin mencari kandidat “sempurna”
Selama bertahun-tahun, divisi Sumber Daya Manusia (SDM) hanya berfokus untuk menemukan kandidat yang sempurna. Mereka mencari pelamar dari lulusan kampus terbaik dan pengalaman di bidang yang akan ditekuni.
Hal ini mendorong para pelamar untuk mulai berbohong mengenai hard skill dan soft skill yang mereka miliki untuk menampilkan versi yang lebih baik dari diri mereka sendiri.
Mereka percaya, kebohongan atau polesan ini bisa membuat mereka mengamankan kesempatan untuk wawancara kerja.
Tetapi justru pada proses wawancara kerja inilah rekruter baru bisa mengidentifikasi kebohongan yang dilakukan pelamar, seperti latar belakang pendidikan, pengalaman kerja yang dibesar-besarkan, keterampilan palsu, atau bahkan catatan kriminal.
Baca Juga: NewJeans Rebut 2 Piala Daesang di MAMA Awards 2023, BTS dan Members Masih Borong Banyak Piala
Cara mengetahui kebohongan pelamar
Tidak perlu detektor kebohongan untuk mengidentifikasi kebohongan pelamar kerja. Ada beberapa cara mengetahui kebohongan pelamar, yaitu:
1. Verifikasi pekerjaan
Hubungi mantan manajer atau departemen SDM pelamar untuk mengonfirmasi beberapa detail, seperti tanggal kerja, jabatan, dan job desk-nya. Setiap perbedaan bisa menjadi tanda bahaya, tetapi jangan terlalu dibesar-besarkan.
2. Pemeriksaan latar belakang