kubikel

Duh, Orang yang Habiskan Waktu Lebih dari 1 Jam ke Kantor Lebih Berisiko Depresi

Kamis, 21 Desember 2023 | 19:28 WIB
Ilustrasi - Macet DKI Jakarta berkurang karena ASN WFH. (Unsplash.com/Kathy.)

PejuangKantoran.com - Tidak ada orang yang suka terjebak kemacetan karena kebisingan, polusi udara, dan kebosanan. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa hal itu juga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental kita. 

Kesehatan mental memang belakangan jadi isu tersendiri, khususnya usai pandemi. Tapi sebuah penelitian terbaru berhubungan dengan perjalanan, pekerjaan, dan juga depresi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Transport & Health menunjukkan bagaimana sejumlah efek perjalanan sehari-hari yang lebih lama dapat berubah menjadi masalah kesehatan mental yaitu depresi.  

Baca Juga: Lowongan Kerja Surabaya: Senior UI/UX Designer di Geniebook Pte. Ltd, dengan Pengalaman 6 Tahun

Perjalanan sehari-hari yang lebih lama telah dikaitkan dengan beberapa dampak buruk pada kesehatan yang disebabkan oleh kurang aktif secara fisik, minum lebih banyak alkohol, dan bahkan kurang tidur karena waktu sibuk di hari-hari sibuk menjadi lebih sedikit bagi penumpang untuk melakukan aktivitas lain. 

Namun, tidak banyak penelitian mengenai dampak kesehatan dari perjalanan jauh, khususnya di negara-negara Asia.  

Penelitian baru-baru ini dilakukan di Korea Selatan, negara yang dikatakan sebagai salah satu negara dengan rata-rata waktu perjalanan terlama dan tingkat depresi tertinggi di antara negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). 

Baca Juga: Desember Harusnya Sudah Masuk Musim Hujan, Kenapa Cuaca Panas Lagi?

Para peneliti menganalisis data dari 23.415 orang berusia antara 20 dan 59 tahun dari Survei Kondisi Kerja Korea Kelima, sebuah survei perwakilan nasional yang dilakukan pada tahun 2017. 

Para peserta diminta menjawab pertanyaan berdasarkan lima poin indeks kesejahteraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para peneliti menentukan kesehatan mental mereka. 

Tim peneliti juga mengkaji beberapa faktor antara lain jenis kelamin, usia, pendidikan, pendapatan, wilayah, status perkawinan, pekerjaan, jam kerja mingguan, kerja shift, dan lain sebagainya. 

Apa yang ditemukan para peneliti?

Temuan ini dipublikasikan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Dr Lee Dong-wook, seorang profesor di Departemen Kedokteran Kerja dan Lingkungan di Rumah Sakit Universitas Inha di Korea Selatan. 

Baca Juga: Rookie, Status untuk Pendatang Baru yang Bukan Main-main

Halaman:

Tags

Terkini