Hubungan yang bermakna. “Menjadi ayah bukan lagi sekadar menafkahi keluarga,” tegas sang CEO. “Pria menginginkan hubungan yang bermakna dengan anak-anaknya, dan mereka ingin berperan aktif dalam keluarga.
Dengan memastikan mereka hadir untuk anak-anak dan pasangannya di hari-hari awal, mereka dapat memperkuat hubungan dengan pasangan dan ikatan dengan anak-anak mereka, sehingga menghasilkan hubungan yang lebih memuaskan di kemudian hari.”
Baca Juga: Susah Dapat Kerjaan, Bintang General Hospital Ditembak Mati Sepulang Nyambi Jadi Bartender
Dukungan cuti melahirkan. Hanus mengingatkan, di masa lalu, pemberi kerja enggan mempekerjakan perempuan yang sudah menikah karena takut mereka hamil dan perlu mengambil cuti melahirkan.
Namun, dia menekankan cuti ayah tidak hanya untuk ayah, tetapi juga membantu ibu. Dengan semakin banyaknya laki-laki yang memanfaatkan cuti orangtua, hal ini akan menghilangkan bias tidak sadar yang kadang-kadang dibawa oleh pemberi kerja dalam perekrutan, sehingga menjadikan dunia kerja mendukung laki-laki maupun perempuan dan keluarga.
Kontributor Forbes, Michelle Travis, menekankan pentingnya dukungan laki-laki terhadap cuti ayah. Ia menjelaskan bagaimana pemimpin laki-laki bisa keluar dari perusahaan, dengan alasan bahwa cuti ayah akan menghilangkan “hukuman menjadi ibu”.
Baca Juga: Kapan Kita Tidak Perlu Memberi Tip atas Layanan yang Kita Terima?
Yang dimaksud hukuman menjadi ibu adalah hilangnya gaji dan peningkatan karir yang dialami perempuan setelah menjadi ibu, karena pemberi kerja menganggap mereka kurang berkomitmen terhadap pekerjaan mereka.
“Mengambil cuti ayah adalah tindakan kuat dari persekutuan laki-laki yang memajukan kesetaraan perempuan di tempat kerja, dan mengurangi kesenjangan upah gender,” tegasnya.