kubikel

Mengapa Karyawan Lebih Memilih Quiet Vacationing daripada Cuti Resmi Sepengetahuan Atasan?

Minggu, 7 Juli 2024 | 16:55 WIB
Ilustrasi: Mengapa karyawan lebih memilih quiet vacationing atau cuti tanpa memberitahu atasan, ketimbang cuti kerja secara resmi? (Freepik)

Mengapa banyak karyawan merasa bekerja terlalu banyak dan kurang mendapat dukungan? Bukankah bekerja secara remote dan hybrid seharusnya bisa membantu mengatasi hal tersebut?

“Selama setahun terakhir, banyak karyawan diharapkan untuk mengambil pekerjaan tambahan di tengah terjadinya PHK dan perlambatan perekrutan, yang mengakibatkan 58% karyawan mengatakanan bahwa perusahaan meminta mereka melakukan pekerjaan tambahan,” katanya.

Baca Juga: Demi Dapat Uang Pensiun Ayahnya, Pria Jepang Tak Laporkan Kematian Ayahnya Selama 2 Tahun

Dengan kata lain, WFH sudah menjadi berkah sekaligus kutukan. Awalnya memang menyenangkan jika kita bisa bekerja di mana saja, sampai akhirnya tidak bisa lagi.

“Beban kerja yang semakin meningkat, ditambah tekanan yang terus-menerus untuk bekerja secara efektif, menyebabkan perasaan stres, frustrasi, dan kelelahan buat sebagian besar karyawan,” tambah Rhodes.

Mengapa quiet vacationing tidak berhasil

Sayangnya, quiet vacationing yang diharapkan bisa meredakan stres ternyata tidak memberikan manfaat yang diharapkan. “‘Perjalanan diam-diam’ itu hanya solusi sementara,” kata Rhodes.

Burnout bukan sekadar masalah kecil yang dapat diatasi dengan login singkat selama beberapa hari.

“Data menunjukkan bahwa 71% karyawan percaya bahwa kelelahan kerja berdampak pada kinerja mereka, memengaruhi antusiasme, dan membatasi produktivitas mereka,” kata Rhodes.

“Strategi paling efektif untuk memulihkan tenaga dan mengurangi kelelahan kerja adalah dengan memprioritaskan waktu istirahat.”

Penyebab ketidakberhasilan quiet vacationing lainnya adalah, karyawan khawatir akan ketahuan. Kecolongan memposting foto di media sosial bisa menimbulkan pertanyaan tentang di mana sebenarnya kamu berada, dan mengapa pekerjaan kamu tidak selesai.

Baca Juga: 5 Kebiasaan Leader yang Tidak Efektif saat Bekerja dan Berakibat Merepotkan Diri Sendiri

Jadi bagaimana perusahaan dapat mengurangi kelelahan karyawan sehingga mereka tidak merasa perlu untuk mencuri-curi waktu kerja untuk berlibur?

Sayangnya, menurut Rhodes, tidak ada solusi yang bisa diterapkan untuk semua orang. Meskipun lingkungan kerja yang fleksibel disebut-sebut ideal untuk mengatasi kelelahan, hal ini hanya menarik bagi 52% karyawan.

“Selain pekerjaan yang fleksibel, karyawan juga ingin menemukan cara untuk membantu dirinya sendiri, alat layanan mandiri, dan kebijakan untuk berkomunikasi di luar jam kerja,” pungkasnya.

Halaman:

Tags

Terkini