Coba amati perilaku selama rapat dan di ruang kerja. Jika terlihat bahwa hanya beberapa orang, terutama mereka yang berkuasa, yang punya kesempatan untuk berbicara, sementara yang lain hanya bisa mendengarkan atau menyetujui, itu sudah jadi red flag.
2. Perilaku mau menang sendiri antara para pemimpin dan karyawan
Budaya saling menuding dan saling menyalahkan adalah gejala kuat dari tempat kerja yang memiliki pola pikir untuk mengadu domba satu sama lain dibandingkan bekerja secara kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
Baca Juga: Letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki Tergolong Besar. Ahli Telah Menduga Penyebabnya
3. Langkanya peluang pertumbuhan
Sebenarnya, tempat kerja yang sehat dan fungsional mungkin tidak memiliki peran vertikal untuk berkembang.
Namun, tempat kerja tersebut tetap fokus pada pengembangan karyawan dan kemampuan individu untuk memastikan staf tetap kompetitif dalam bekerja.
Jadi, jika di tempat kerja pengembangan karyawan tidak pernah dibahas, akan tercipta lingkungan yang penuh dengan racun.
4. Hubungan kerja transaksional, bukan kolaboratif
Di lingkungan kerja yang tidak sehat, kurangnya kepercayaan sering kali menyebabkan kontrol yang kaku terhadap cara kerja.
Pola pikir ini menghalangi terjadinya percakapan yang transparan dan kemitraan kolaboratif yang dapat meningkatkan kerja sama.
Tanpa kepercayaan dan pemahaman, tempat kerja seperti ini akan kesulitan menavigasi aspek-aspek pekerjaan yang membutuhkan kolaborasi lintas fungsi dan lintas tim.
5. Kurangnya transparansi selama wawancara
Tempat kerja yang toxic sering menyembunyikan informasi tentang kekurangan mereka dan ini biasanya muncul dalam proses wawancara.