Mereka juga dilaporkan kurang bersedia bekerja sama atau mendistribusikan tugas kepada karyawan tersebut dalam kesempatan lain.
"Semua orang melihat karya yang sama persis, entah itu pengajuan sekolah, atau proposal bisnis, tetapi mereka enggan mempertimbangkan tentang kapan karya tersebut masuk untuk mempengaruhi penilaian mereka tentang seberapa bagus karya tersebut," kata Maglio, yang turut menulis penelitian tersebut bersama David Fang dari Universitas Stanford.
Baca Juga: Perempuan Lebih Baik daripada Laki-Laki dalam Wawancara Kerja, meskipun Lebih Stres
Mereka yang bersemangat mengirimkan karya lebih awal diberi tahu bahwa hal itu tidak akan meningkatkan opini, demikian menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal Organizational Behavior and Human Decision Processes tersebut.
Tidak masalah seberapa telat karya tersebut diserahkan, entah satu hari atau satu minggu, semua tetap dinilai negatif. Hal itu juga tetap terjadi meskipun karyawan tersebut sudah memberitahukan sebelumnya kepada atasan mereka.
Sebelumnya, para psikolog juga sudah mengetahui kecenderungan karyawan untuk salah melakukan perencanaan, meremehkan waktu, dan tantangan yang muncul saat menyelesaikan tugas.
Namun menurut penelitian terbaru ini, ketidakmampuan untuk merencanakan secara realistis itulah yang tidak disukai, di mana faktor-faktor di luar kendali karyawan tidak dipandang sebagai hal yang negatif.
Baca Juga: Skor ESG Naik, BRI Tembus Peringkat 5 Persen Teratas Di Sektor Perbankan Global
"Jika alasan kamu melewati tenggat waktu berada di luar kendali kamu, sebagai karyawan kamu harus memberi tahu atasan," kata Maglio. "Itu tampaknya salah satu dari sedikit contoh di mana orang bersedia memberi kamu keringanan."
Nah, jadi, ubah kebiasaan menunda-nunda pekerjaan meskipun tujuannya untuk memoles laporan kamu jadi lebih menarik.