Salah Kaprah #2: Terlibat dalam Masalah Pribadi Itu Terlalu Berbahaya
Ada kalanya seorang pimpinan enggan turut campur dengan apa yang terjadi pada perasaan anggota timnya. Ini karena mereka merasa tidak punya hak untuk campur tangan dalam urusan pribadi karyawan.
Atau bisa jadi karena si pimpinan tidak tahu bagaimana merespons dengan tepat dan khawatir akan mengatakan atau melakukan hal yang salah.
Namun, kenyataannya, emosi itu justru bisa menjadi jembatan yang menghubungkan manusia. Ketika kamu sebagai pimpinan terlihat peduli dengan perasaan anggota tim, ini akan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi apa yang sedang terjadi pada mereka.
MIsal dengan gestur yang mendukung, sampaikan kepada anggota tim yang sedang dalam masa sulit tersbut, bahwa kamu bersedia berbicara jika mereka menginginkannya.
Baca Juga: Meski Masih Jadi Karyawan Entry Level, 5 Leadership Skill Ini Perlu Kamu Miliki
Salah Kaprah #3: Orang yang Berbagi Emosi Agar Kamu Membantu Menyelesaikan Masalahnya
Sudah jamak bahwa seroang pemimpin selalu dinggap bisa memperbaiki keadaan di tempat kerja. Apapun masalahnya, pemimpin dianggap sebagai problem solver.
Pemahaman seperti ini menyebabkan para pemimpin ini langsung terjun dan menawarkan nasihat tanpa lebih dahulu mendengarkan dan memahami lebih banyak tentang apa yang sebenarnya dicari oleh karyawan mereka.
Memang terkadang karyawan menginginkan bantuan pemimpin mereka dalam mengatasi suatu masalah. Namun, ada kalanya mereka hanya ingin memberi tahu pemimpin mereka tentang apa yang mereka alami untuk didengar dan dipahami.
Nah, coba kamu perhatikan lagi, apakah kamu masih melakukan satu atau ketiga salah kaprah di atas? Jika masih, yuk perbaiki. ***